logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 30 Juli 2004 WACANA
Line

SURAT PEMBACA

BNI Cabang Magelang Bersikap Ksatria

Sehubungan tulisan saya berjudul ''BNI Cabang Magelang Tidak Fair'' yang dimuat rubrik ini pada 14 Juli 2004, kepala BNI Cabang Magelang didampingi staf telah menemui saya secara pribadi dan tulus. Beliau mengaku mengeluarkan uang pecahan ribuan yang jelek sekitar seratus dua puluh juta rupiah.

Beliau menyesal atas kasus yang terjadi seperti yang telah saya uraikan dalam tulisan tersebut. Atas permintaan beliau pula saya menyatakan masalah tersebut telah diselesaikan. Beliau berterima kasih atas koreksi dan akan berupaya meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Saya pun merasa lega karena pihak BNI bersikap ksatria. Semoga segala usaha dan kegiatan BNI Cabang Magelang dapat memenuhi harapan masyarakat.

Heru Kastono SPd.

Jl Karbol 11 Panca Arga I Magelang

***

Kasus Gula Ilegal

Teriring dengan terbukanya alam keadilan, sedikit demi sedikit mulai terangkat berbagai kasus hitam yang sebelumnya dibungkus rapi. Seperti kasus gula impor ilegal yang diduga melibatkan ketua Inkud Nurdin Halid yang sejak dulu sudah dicurigai bahkan sudah dimejahijaukan tetapi divonis bebas.

Kemudian Gubernur NAD Abdullah Puteh yang dijadikan tersangka, lalu anggota DPRD Padang yang sudah divonis. Saya yakin dengan berjalannya waktu maka koruptor lambat tetapi pasti akan dibersihkan. Termasuk desas-desus korupsi di lingkungan DPRD Kabupaten Pekalongan.

Sebagai warga biasa yang tidak memiliki jabatan apa-apa sehingga tidak bisa korupsi, maka tidak perlu risau bila kekurangan modal usaha. Masih banyak cara halal dan bebas dari jerat hukum, yaitu mengajukan proposal kepada lembaga penyandang dana baik hibah atau pinjaman lunak berbunga rendah 6%/ tahun.

Seperti bantuan dari kedutaan Jepang, Kanada, ADB, Deptan AS, PT Telkom dan bantuan dari Program Pemulihan Keberdayaan Masyarakat dan lainnya.

Subagyo

Sidomulyo Rt 6/Rw 2 Lebakbarang, Pekalongan

***

Saya Bermimpi

Sebelum pemili legislatif 5 April 2004 pukul 01.30 dini hari saya bermimpi. Terlihat di barat muncul matahari dari bumi dan dari timur ada bulan mau tenggelam ke bumi. Namun bulan dan matahari tersebut berbarengan di makan hingga tiada bekas oleh dua ikan yang besarnya luar biasa.

Kedua ikan tersebut warnanya merah, hijau-hijau, kuning, putih. Pokoknya luar bisa indahnya sehingga aku tak bisa menggambarkan lengkap. Di barat dan di timur ikan itu sama rupa, sama besar dan muncul dari bumi yang sama. Setelah mimpi tersebut aku bangun dan istriku juga kubangunkan. Aku hanya bertanya dalam hati, adakah ini firasat atau hanya kembangnya orang tidur.

H Moh Irsan

Jl Boom Lama Rt 7/Rw 3 Semarang

***

Dampak Konvensi Golkar

Pada 20 April 2004 Partai Golkar mengadakan pemilihan capresnya lewat konvensi. Peristiwa itu dilihat dari luar bernilai plus. Partai Golkar paradigma baru, demokratis dan reformis. Itu kehendak para petinggi partai yang dikomandani Ir Akbar Tanjung guna meningkatkan citra positif partai.

Konvensi terlaksana demokratis dan simpatik. H Wiranto sebagai pendatang baru terpilih sebagai capres dari Golkar, mengalahkan para finalis termasuk Akbar Tanjung (ketua umum). Namum follow up apa yang terjadi dirasakan dalam tubuh partai ini. Tampak terjadi rasa gelisah dalam tubuh partai dari level atas s.d kader/simpatisan.

Sebagian dari mereka merasa kasihan kepada Akbar Tanjung. Perjuangan dan pengorbanan dia sungguh besar demi tegak tegarnya partai yang berarti sebagai ketua umum gagal menjadi capres. Mungkin karena itu sebagian jumlah suara perolehan Golkar pada pemilu legislatif 5 April 2004 mengalir ke rival capres lain pada pilpres lalu.

Akan lain hasilnya bila konvensi dilaksanakan paling lambat satu tahun sebelum pemilu legislatif yang menetapkan dua capresnya. Selain capresnya, juga bisa dipersiapkan cawapresnya sendiri maju dalam pilpres.

Dengan demikian dua capres Golkar jauh hari bisa disosialisasikan dan didekatkan pada umum dan para simpatisannya. Sekaligus dua capres tersebut dituntut berkiprah aktif positif membesarkan partai.

Pengalaman berharga untuk semua. Sukses dan simpatiklah pilpres September 2004.

Arif Sardjono

Manjung Rt 1/Rw 1 Sawit Boyolali

***

Mutu Pendidikan dan Konsistensi Guru

Mutu Pendidikan sangat tergantung dari peran Bapak/Ibu guru, apapun sistem yang dipakai CBSA, KBK atau sistem lain.Hanya guru yang bertanggung jawab dan konsisten terhadap tugasnya yang mampu membawa kemajuan berarti dalam sistem pendidikan.

Untuk itu saya menanggapi Surat Pembaca Bp Soetrisno beberapa waktu lalu. Saya setuju soal pilihan ganda menghambat dan merugikan kemampuan siswa. Sebaiknya soal pilihan ganda hanya sebagai batu ujian berkala saja. Guru dalam keseharian harus memberikan soal uraian.

Juga tidak henti-hentinya mengontrol kemajuan para siswa satu-persatu.Sebagai ilustrasi, keberhasilan SMP swasta papan atas di Kota Semarang yang berhasil mengantarkan siswanya mencapai nilai rata-rata sekolah 8,83 pada Ujian Akhir Nasional bagi pelajaran Matematika.

Para guru di sekolah tersebut konsisten, pekerja keras dan bertanggung jawab. Setiap bab pelajaran selesai,selalu mengadakan ulangan evaluasi yang sebagian besar soal uraian. Dengan cepat guru mengoreksi, memberi nilai dan mengembalikan hasil ulangan pada siswanya.

Tradisi yang dikembangkan tersebut, memberi efek positip bagi motivasi siswa untuk belajar dan mengembangkan diri. Guru bisa mengetahui secara dini kemampuan masing-masing siswa, dan dapat segera memberi perhatian lebih pada siswa yang kurang.

Memang bukan rahasia lagi jika banyak guru yang malas memberi ulangan(evaluasi). Mungkin setelah 2 sampai 3 bab baru memberi ulangan, itupun tidak segera dikoreksi dan hasil penilaiannya tidak diberikan pada siswa. Pada situasi tersebut mempengaruhi motivasi siswa untuk belajar.

Juga tentunya berakibat siswa lebih malas, masa bodoh dan apatis. Kemalasan yang terjadi pada oknum guru, bisa saja karena karakter pribadinyai, kualitas SDM guru tersebut, atau karena kurangnya kesejahteraan.

Kesimpulan, guru sosok menentukan dan konsistensi memberikan pelajaran dan berkelanjutan dalam mengontrol kemajuan para siswanya merupakan kunci majunya pendidikan. Untuk itu mendesak memperbaiki kualitas SDM guru dengan memperbaiki kesejahteraannya.

Dengan demikian mereka bisa berkonsentrasi secara total pada pengabdiannya.Barangkali kalau bisa dicapai kesepakatan nasional untuk memberi gaji guru 2 atau 3 kali dibanding gaji para pegawai lain sehingga akan dihasilkan guru-guru unggul.

Sekaligus mendorong generasi muda yang pintar di angkatannya untuk bercita-cita jadi guru. Semua tergantung kita, maukah mendudukkan profesi guru sebagai bagian yang sangat penting bagi perjalanan bangsa ini.

B Widriarto

Jl Wiroto II/3 Semarang


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA