| Jumat, 30 Juli 2004 | MURIA |
Memburu Harimau dan Elang Jawa di Gunung Muria (1)Ditemukan Sisa Makan Malam Sang RajaKETIKA derap kaki tertatih karena menahan beratnya ''carier'' yang melekat di pundak, hamparan ladang kopi dan jagung di sepanjang sisi jalan seakan menjadi sahabat yang sayang untuk dilepaskan. Sebanyak 15 orang ''pemburu'' Harimau dan Elang Jawa itupun bergegas menapaki bongkahan tanah tandus yang terus menanjak di punggung Dukuh Semliro, Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kudus. Mereka adalah bagian volunteer dari program Muria Research Centre yang bermaksud akan membuat data awal tentang keberadaan Harimau Jawa (Panthera Trigis Sondaica) dan Elang Jawa (Spizaetus Bartelsi) di Pegunungan Muria. Sebelum menginjakkan kaki di kawasan hutan Muria, 12 anggota relawan yang terdiri atas dua unsur dosen dan 10 mahasiswa UMK, mereka terlebih dahulu harus mengikuti tutorial yang diberikan Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Yogyakarta, sebagai pihak yang selama ini selalu terlibat dalam penelitian serupa di sejumlah tempat. Menurut seorang pemerhati sekaligus peneliti Harimau Jawa dari PPS Yogyakarta, Didit Raharyono, spesies tersebut dikenal sebagai predator bagi Babi Hutan (Sus Barbatus), Kijang (Muntiacus Muntjak), Lutung (Trachyphitecus Auratus), dan Monyet Ekor Panjang (Macaca Fascilutaris). ''Hewan tersebut merupakan pemakan daging terbesar di Pulau Jawa,'' jelas Didit yang juga pengarang buku ''Berkawan Harimau Bersama Alam'' itu. Setelah materi dasar tentang keberadaan hewan tersebut diketahui, hal berikutnya yang dilakukan yaitu mengadakan observasi melalui teknik wawancara kepada penduduk lokal yang wilayahnya sering dirambah predator tersebut. Investigasi tersebut berguna untuk mempertajam daerah yang akan dikaji. Menurut pengakuan juru kunci di mata air Bunton, Kasuri (65), ia melihat keberadaan hewan tersebut di sekitar tempat itu sekitar tiga minggu lalu. ''Ia akan mencari minum di tempat ini, Mas,'' kata dia yang ditirukan Tim MRC tersebut. Berbekal keterangan tersebut, Tim segera menyusuri jejak Harimau Jawa dengan menelusuri sekitar mata air Bunton. Tidak berapa lama kemudian, tak jauh dari mata air Bunton, ditemukan kotoran Harimau di tempat itu. Menurut penuturan Didit, kotoran tersebut bukan merupakan jejak Harimau Jawa melainkan Harimau Tutul (Pantera Pardus). ''Mungkin itu sisa makan malam sang Raja (Harimau Jawa),'' seloroh seorang relawan. Hal itu bisa dilihat dari besar ukuran kotoran yang ditemukan. Untuk Harimau Jawa, besar kotoran bisa berdiameter 3 cm atau lebih, terdapat rambut hewan yang baru saja dimangsa, dan menyisakan tulang burunannya dalam bentuh serpihan atau remah-remah. Sedangkan untuk Harimau Tutul, kotoran yang ditinggalkan mempunyai ukuran diameter 2 - 2,5 cm, serta hanya sedikit menyisakan tulang hewan buruannya. ''Penemuan kotoran tersebut ditemukan di sekitar mata air Bunton dan jalan setapak menuju Desa Tempur. Kedua buah kotoran tersebut ditemukan pada pukul 13.00. Sebagian dari kotoran tersebut kemungkinan baru saja ditinggalkan oleh hewan itu, mengingat bau bangkai yang ditimbulkan dari faces tersebut masih sangat menyengat,'' jelasnya. Selain di kedua tempat itu, jejak Harimau Tutul maupun Harimau Jawa, tidak ditemukan lagi. Menurut pendapat Didik, yang dikuatkan dengan keterangan dari sejumlah warga pedukuhan tersebut, hewan tersebut dalam periode tertentu masih sering berkeliaran di tempat itu.(Anton Wahyu Hartono- Bersambung-42) |