| Jumat, 30 Juli 2004 | EKONOMI |
TKI Diarahkan ke Industri PariwisataSEMARANG-Pengiriman tenaga kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri bakal lebih diarahkan pada industri pariwisata. Dalam waktu dekat pemerintah bersama 14 asosiasi, termasuk PHRI, akan meluncurkan Lembaga Sertifikasi Pekerja Pariwisata (LSP Par). ''Untuk mencetak tenaga kerja berstandar internasional tersebut pemerintah bekerja sama dengan Australia menyediakan dana 1 juta dolar AS,'' kata Yanti Sukamdani, Ketua Badan Pimpinan Pusat (BPP) Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dalam konferensi pers menjelang Musda IX PHRI Jateng di Patra Semarang Conventioan Hotel, kemarin. Didampingi Ketua PHRI Jateng periode 2002-2004 Imam Kamal dia menuturkan peluang kerja pada industri pariwisata masih sangat terbuka di luar negeri. "Hampir semua pegawai di airport Dubai, misalnya, berasal dari Filipina. Pada dasarnya semua yang dikerjakan TKI sama, yakni bersih-bersih rumah orang atau di hotel namanya housing. Lalu masak-memasak atau di hotel bernama food and bevarage. Pembeda harga hanya sertifikasi," ujarnya. Program yang sebelumnya telah ditangani PHRI sejak empat tahun belakangan itu, lanjut dia, memungkinkan TKI bermain pada industri nasional atau internasional. Terlebih LSP Par telah memenuhi standardisasi ASEAN Hotel and Restaurant Association (AHRA). ''Beberapa sasaran yang dituju saat ini adalah Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, dan kapal-kapal pesiar. Timur Tengah sebenarnya juga menjadi target, tetapi bahasa Arab masih menjadi kendala," imbuh pengusaha yang juga Ketua AHRA tersebut. Hingga tahun ini, kata dia, PHRI telah melakukan sertifikasi terhadap 46 hotel berbintang dan 1.300 hotel melati yang tersebar di 26 provinsi. Ada tiga provinsi yang sulit disertifikasi lantaran masih menjadi daerah konflik, misalnya Aceh. ''Meski demikian jumlah itu diperkirakan akan membengkak karena otonomi daerah membuat pendirian hotel dan restoran kian menjamur,'' jelasnya.(rei-53) |