| Senin, 26 Juli 2004 | NASIONAL |
Irak Makin Rusuh, Krisis Sandera MemburukBAGDAD - Polisi Irak dan Pengawal Nasional menewaskan 13 tersangka militan dalam bentrokan keras di dekat Bagdad, Minggu kemarin. Bentrokan itu merupakan salah satu yang paling sengit yang dihadapi pasukan keamanan sejak penyerahan kekuasaan akhir Juni lalu. Polisi dan Pengawal Nasional diserang dengan tembakan mortar dan granat yang dikendalikan roket saat mereka mengamankan pasukan AS yang melancarkan serangan dekat kota yang bergolak, Buhriz, 55 km sebelah utara Bagdad, jelas militer AS. Selama pertempuran, yang berlangsung sekitar satu jam, pesawat-pesawat tempur AS mematroli wilayah udara dan senapan artileri AS melepaskan tembakan untuk menekan posisi-posisi mortar kelompok perlawanan, kata Mayor Neal O'Brien dari Divisi Infanteri Pertama AS. Bentrokan tersebut merupakan pertempuran besar pertama antara pasukan keamanan Irak dan kelompok perlawanan sejak penyerahan kedaulatan pada 28 Juni lalu. Sejauh ini, pertempuran tersebut paling banyak menelan korban jiwa. Pertempuran itu terjadi saat krisis sandera Irak makin memburuk. Dua warga Pakistan yang bekerja di perusahaan Kuwait dikhawatirkan diculik setelah dinyatakan hilang. Warga Pakistan Diculik Kantor urusan luar negeri Pakistan menyatakan kedua warganya, seorang insinyur dan seorang sopir yang diyakini bekerja di Grup l-Tamimi, hilang Jumat lalu saat mereka mengendarai mobil menuju Bagdad. ''Kami sedang berusaha mengetahui perinciannya. Dikhawatirkan, mereka diculik,'' kata juru bicara kantor tersebut. ''Kami akan berusaha melakukan yang terbaik untuk membebaskan mereka jika mereka memang diculik.'' Selama 15 bulan terakhir, warga dari 24 negara telah diculik di Irak, kadang-kadang oleh kelompok penjahat, namun seringkali oleh militan yang berusaha mendesak pemerintah dan perusahaan asing agar mundur dari negara itu. Dalam satu peningkatan kelompok militan, seorang diplomat Mesir ditangkap saat dia meninggalkan masjid Bagdad, Jumat lalu. Sebagian besar orang yang diculik adalah sopir. Penculikan meningkat tajam sejak April lalu, ketika sejumlah orang ditangkap dalam satu bulan. Sekitar 60 orang disandera sejak itu, jelas para pejabat. Meski sebagian besar sandera telah dibebaskan, paling tidak enam orang telah dibunuh - empat di antaranya dipancung. Paling tidak dua tuntutan penyandera dipenuhi, satu langkah yang mungkin ikut meningkatkan penculikan. Penangkapan diplomat Pakistan itu terjadi saat satu kelompok yang menyebut diri sayap Al Qaedah di Eropa menyatakan Italia dan Australia, sekutu kuat AS, harus mundur dari Irak atau menghadapi serangan di dalam negeri. PM sementara Irak Iyad Allawi menyerukan kepada negara-negara itu agar tidak tunduk pada teroris. ''Rakyat Australia, jika pemerintah kalian menolak mundur, kami akan mengguncang tanah di bawah kaki kalian dan barisan mobil pembor tidak akan berhenti,'' kata kelompok yang menyebut diri Kelompok Islam Tawhid, organisasi Al Qaedah di Eropa. ''Warga Italia, kami menganjurkan kalian agar menerima tawaran kami dan jika kalian menolak, kalian akan mendengar konvoi mobil pembor mengguncang kota-kota kalian,'' kata kelompok itu dalam pernyataan yang dimuat satu web site. Menlu Australia Alexander Downer mengatakan, dia tidak kenal dengan kelompok itu namun menganggap ancaman itu serius. ''Ancaman itu mengingatkan kami bahwa kami harus gigih menghadapi ancaman-ancaman teroris untuk meyakinkan bahwa kami tidak tunduk pada ancaman mereka,'' katanya pada televisi Australia.(rtr-niek-46) |