| Senin, 26 Juli 2004 | NASIONAL |
Astronom-astronom Muda dari Jateng (1)Menggapai Matahari, Menjemput Rembulan
Penyelenggaraan Olimpiade Astronomi Nasional tenggelam oleh ingar-bingar Euro 2004. Padahal banyak prestasi yang diraih siswa-siswi dari Jateng. Bahkan Masyhur Aziz Hilmy dari Klaten sukses mendapat medali emas di kelompok senior (SMA) dan Rhorom P (Salatiga) meraih emas di kelompok yunior (SMP). Seperti apakah event langka ini, bagaimana astronom-astronom muda itu bisa menyukai bidang ini, serta bagaimana peran orang tua dan sekolah dalam memfasilitasi mereka? Berikut laporan terpadu yang digarap wartawan Suara Merdeka di berbagai daerah. KHADIJAH, remaja berusia 15 tahun itu, merasa seperti melayang-layang di luar angkasa. Ada kehampaan di sana, tetapi ia senang berada di antara planet-planet, bintang, bulan, dan matahari. ''Pokoknya indah banget,'' katanya. Namun, sebagaimana pengakuannya, dia belum pernah mengalaminya. Segala perasaan atau impiannya itu baru sebatas apa yang pernah dibacanya melalui buku, kemudian diolah melalui rasa dan akalnya. Berbeda dari kebanyakan kawula muda lainnya yang terpuruk pada dunia gembira (dugem), pelajar kelas II SMA Negeri 5 Semarang ini justru tergila-gila pada bidang astronomi. Minatnya terhadap ilmu astronomi amat tinggi. Tak heran jika dia mampu meraih medali perunggu dalam Olimpiade Astronomi Tingkat Nasional di Jakarta, 23-27 Juni lalu. Jika matematika dan fisika yang lebih dulu diolimpiadekan, baru belakangan ini astronomi dilombakan di kalangan pelajar SMP dan SMA di Indonesia. Tahun ini merupakan kali kedua penyelenggaraan Olimpiade Astronomi. Dunia pendidikan di Jateng patut berbangga, karena beberapa siswa mampu meraih medali. Selain Khadijah, Kurniawan Agung Pambudi dari SMP 1 Kota Magelang juga meraih perunggu. Bahkan Masyhur Aziz Hilmy (SMA 1 Klaten) dan Rhorom P (SMP 1 Ungaran) sukses meraih medali emas, sehingga berhak mewakili Indonesia ke Olimpiade Astronomi Tingkat Dunia di Ukraina, September mendatang. Di luar itu masih ada nama-nama lain seperti Andreas BA (SMP 1 Salatiga), Sani Nur Baeti (SMA 1 Purwokerto), Ade Siska Purwanti (SMA 1 Cilacap), dan Muhammad Muamar (SMP 1 Kota Magelang). Saat berlaga, Ade masih tercatat sebagai pelajar kelas III di SMP Negeri Wangon, Banyumas. Ada dua kelompok yang dilombakan dalam Olimpiade Astronomi, yaitu senior (SMA) dan yunior (SMP). Mereka harus mengikuti empat tahapan ujian, yaitu simulasi, observasi di Planetarium, teori (hitungan), dan observasi langsung di Boscha (Lembang). Belum Mandiri Di Indonesia, bidang astronomi belum dapat dikatakan mandiri. Ia tak diajarkan secara khusus, atau sebagai mata pelajaran yang sejajar dengan fisika, biologi dan matematika. Ini terjadi baik di SMP maupun SMA. Tidak heran jika kebanyakan siswa juga kurang memahami astronomi. Inilah salah satu sebab, mengapa Indonesia baru belakangan menggelar Olimpiade Astronomi. Hanya beberapa pelajar pilihan, yang sejak awal memang berminat, yang menyukai bidang ini. Biasanya nilai mereka untuk pelajaran matematika dan fisika sangat bagus. Beruntung pihak sekolah, mulai dari pembimbing sampai kepala sekolah, memberi dukungan moral dan materi tambahan (buku). Para guru pembimbing misalnya, rela mencarikan buku-buku yang terkait dengan astronomi. Padahal, untuk ukuran kota kecil seperti Klaten, Purwokerto, dan Magelang, buku-buku macam itu amat sulit didapatkan. ''Kami sampai berburu ke Yogyakarta, Bandung, dan Semarang. Sani Nur Baeti dan Ade Siska juga minta tolong saudaranya di luar kota,'' kenang Ika Mulyaningsih SPd, guru pembimbing Sani untuk pelajaran matematika. Menurut Koordinator Pembimbing Olimpiade Astronomi SMA Negeri 5 Semarang, Drs Supriyanto, tinjauan ilmu astronomi adalah ilmu perbintangan, yang hanya dapat dipelajari dari mata pelajaran fisika untuk SMA. ''Di SMA tidak ada pelajaran astronomi, karena masih menggunakan Kurikulum 2004,'' katanya. Kendala lainnya, Jawa Tengah tidak memiliki fasilitas atau peralatan astronomi secanggih Bandung dan Jakarta. Wajar bila beberapa siswa agak gagap teknologi, ketika menghadapi ujian praktik menggunakan piranti yang sebelumnya tak pernah dilihatnya. Dua tahap ujian, yaitu di Planetarium dan Boscha, inilah yang menjadi kendala besar bagi duta-duta Jateng. ''Jika ada yang kalah itu wajar. Beberapa peserta lain punya banyak kesempatan belajar dan melakukan praktik di sana,'' kata Drs Sigit Supriyanto, juga pembimbing Sani. Utusan Jateng ini akhirnya menempati peringkat 12 dari 31 peserta di kelompok yunior. Maklum para peserta dari Jakarta dan Bandung memiliki akses yang lebih mudah dan murah untuk pergi ke Planetarium dan Boscha. Sehingga secara teknis mereka sudah akrab dengan lokasi lomba, dan memahami apa yang akan dilombakan. ''Dalam ujian teori yang masih terkait dengan fisika dan matematika, baik saya maupun Ade Siska mampu mengimbangi peserta dari Jakarta dan Bandung. Tapi saat pengolahan data dari hasil praktik lapangan, kami jadi tertinggal jauh,'' kata Sani, gadis berjilbab dan berkacamata minus ini. Bahkan Ade Siska hanya berada di urutan ke-26. Membanggakan Dengan segala keterbatasan itulah, prestasi yang diraih Masyhur Aziz Hilmy -pelajar kelas III IPA-4 SMA Negeri 1 Klaten- menjadi sangat membanggakan. Dia meraih medali emas, dan berhak mewakili Indonesia ke tingkat dunia. Kebanggaan terlihat nyata di wajah ibunya, Ny Sri Jamiyatun (49), saat ditemui Suara Merdeka di rumahnya yang sekaligus menjadi tempat usahanya, salon dan rias pengantin, di Jalan Raya Paseban, Kecamatan Bayat, Klaten. Sejak tujuh tahun lalu Sri harus membesarkan sendiri ketiga anaknya. Suaminya, Drs Ruslan, meninggal karena sakit. Mamas, panggilan akrab Masyhur, merupakan anak kedua. Kakaknya, Ika, kuliah di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Sedangkan Ismah, adiknya, masih duduk di kelas III SMP. ''Maaf.., Mamas masih berada di Lembang (Bandung), untuk mengikuti pelatihan dan mengurus keperluannya sebelum berangkat ke Ukraina,'' kata Sri. Dia amat bersyukur memiliki anak yang pintar, dan bisa membawa nama Klaten, Jateng dan negara ke tingkat dunia. Wanita ayu berambut sebahu itu mengatakan, Mamas mengikuti Olimpiade Astronomi karena ditunjuk sekolah. Dia mengikuti seleksi tingkat kabupaten Klaten ketika masih duduk di kelas II SMA. Karena lolos, dilanjutkan seleksi tingkat Jateng di Magelang. ''Kalau waktu seleksi tingkat kabupaten dan Jawa Tengah, saya ikut mengantar. Tapi seleksi selanjutnya, sampai akhirnya dapat medali emas, saya tidak boleh ikut. Yang mengantar guru sekolahnya,'' kata Sri, sambil membenahi alat rias pengantinnya. Sewaktu masih kecil, anak keduanya itu bercita-cita ingin menjadi pilot. Namun setelah besar, cita-citanya berubah ingin masuk fakultas teknik. Entah setelah kemenangannya kali ini. Mungkin Mamas ingin menggapai matahari, atau menjemput rembulan, melalui ilmu astronomi... (48) | ||||