| Senin, 26 Juli 2004 | NASIONAL |
Rekaman VCD di BanjarnegaraPolri Dinilai Dukung MegaJAKARTA- Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni) Jakarta mendesak Kapolri Jenderal Da'i Bachtiar untuk mengundurkan diri, karena dianggap tidak netral dalam pemilu presiden tahap pertama. Iluni mengaku mendapatkan bukti keterlibatan Polri dalam kecurangan pilpres melalui sebuah VCD. Desakan itu disampaikan anggota Dewan Penasihat Iluni Jakarta, Irawanto, Agus Hudri Sitompul, dan anggota DPD terpilih Jakarta Marwan Batubara kepada pers dalam acara bertajuk "Mengungkap Skandal Pilpres 2004" di Hotel Sahid Jaya, Jakarta, kemarin. Dalam diskusi itu, Iluni mengundang sejumlah tokoh politik dan aktivis LSM, seperti Mohammad Jumhur Hidayat, Samuel Koto, Yenis Rosa Damayanti, dan sejumlah perwakilan tim sukses capres lainnya. Saat berlangsung acara tersebut, sejumlah anggota keamanan berpakaian preman tampak di ruang diskusi. Malah di akhir acara jumpa pers, Kapolres Jakarta Pusat datang untuk memantau. Pada acara itu, Ketua Umum Ikatan Alumni UI, Ekki Agustyoso, menyampaikan pernyataan sikap, menyusul penemuan VCD tersebut. Menurut dia, penemuan itu membuktikan keterlibatan Polri dalam upaya turut menyukseskan pasangan Megawati-Hasyim Muzadi Pakai Sandi Indikasi itu, kata Ekki, menandakan ada praktik penyalahgunaan wewenang oleh lembaga negara dan institusi penegakan hukum. Sebagai alat penguasa, mereka semestinya bersikap netral. Dalam kesempatan itu, diputar VCD mengenai pertemuan di Markas Polres Banjarnegara, Jawa Tengah, 29 Mei 2004, yang dipimpin seorang perwira menengah berpangkat kombes. Pertemuan itu dihadiri semua jajaran petinggi di Mapolres Banjarnegara, anggota Bhayangkari, dan sejumlah purnawirawan polisi dan jandanya. Menurut Irawanto, dalam rekaman itu digunakan banyak istilah tertentu. Contohnya, istilah (sandi) ''Mas Eko'' panggilan untuk Angkatan Darat, ''Mas Dwi'' panggilan untuk Angkatan Udara, ''Mas Tri'' panggilan untuk AL, ''Mas Catur'' panggilan untuk kepolisian, dan ''Nuraini'' panggilan untuk Megawati. Dalam rekaman itu, sang kombes memberikan pengarahan mengenai persiapan Pemilihan Presiden 2004. Dia memberikan penjelasan setiap figur capres dan cawapres serta misi dan visinya, terutama siapa yang paling peduli terhadap Polri. Dia juga mempresentasikan sejumlah kekurangan dan kelemahan memilih capres-capres lainnya, seperti SBY-Kalla, Amien-Siswono, dan Hamzah-Agum Gumelar. Sedangkan pasangan Mega-Hasyim diperlihatkan gambar beserta program-programnya. Sementara capres lainnya hanya ditampilkan gambar dan nomor urutnya saja. Dalam tayangan itu, kombes menyatakan perhatian pemerintah sekarang terhadap kesejahteraan Polri sangat besar. Polri terpisah dari TNI, mendapatkan fasilitas cukup untuk melindungi masyarakat. Lima tahun ke depan sarana Polri akan terus meningkat, apalagi gaji ke-13 segera mengucur. Di sela-sela ceramah juga terdengar suara seorang perempuan, "Jadi pilih siapa, Bu?" Dijawab oleh peserta,"Megawati!" Kombes juga menekankan, Kapolri tidak mengarahkan untuk memilih salah satu capres, tetapi mempersilakan calon pemilih untuk mencoblos sesuai dengan hati nurani. Setelah pengarahan, acara dilanjutkan dengan tayangan seorang perempuan berseragam bhayangkari sedang berpidato. Di akhir pertemuan, seseorang mengucapkan terima kasih atas kehadiran tamu undangan, dan terlihat beberapa polisi memberikan amplop sebagai pengganti uang transportasi. Bungkusan Cokelat Usai pemutaran, Irawanto mengatakan, VCD itu didapat secara tidak sengaja saat sampai di meja depan Sekretariat Iluni, Jl Cipaku I No 11B, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (23/7). Stafnya, di kantor itu, melihat ada bungkusan cokelat berisi VCD. Setelah diputar, mereka terkejut. Sebab, isinya soal pertemuan yang menurut Iluni dikategorikan sebagai kecurangan dalam pemilihan presiden. Setelah mengkaji semalam dua hari, mereka menyimpulkan, isi VCD itu asli, walau telah diedit. Rekaman itu menunjukkan peristiwa pertemuan internal pada 29 Mei 2004 di Mapolres Banjarnegara. Pihaknya berhasil memperoleh bukti keterlibatan Polri dalam menyukseskan pasangan Megawati-Hasyim. Polri sebagai lembaga negara dan institusi penegakan hukum seharusnya bersikap netral, bukan justru menjadi alat penguasa dalam mempertahankan kedudukannya. Karena itu, Iluni mendesak Kapolri Jenderal Pol Da'i Bachtiar untuk mengundurkan diri demi keutuhan konstitusi dan demokrasi. Iluni juga mengimbau TNI dan Polri untuk bersikap netral. ''Panwas pemilu juga harus bersikap tegas dalam menyikapi segala bentuk kecurangan dalam Pemilu 2004,'' tandasnya. Anggota Dewan Penasihat Iluni yang lain, Hudri Sitompul, mengingatkan, setiap barang bukti yang diterima harus disampaikan kepada publik. ''Kita belum tahu apakah VCD itu asli atau rekayasa.'' Ahmad Bagdja, salah seorang anggota Tim Sukses Mega-Hasyim, mengatakan, seharusnya pihak KPU atau panwas pemilu tidak serta merta menerima informasi dari VCD begitu saja tanpa menyelidiki kebenaran peristiwa itu. Membantah Kapolres Banjarnegara, AKBP Widiyanto tengah memikirkan upaya hukum terhadap Iluni UI dan pihak-pihak lain yang menyebarluaskan VCD seolah-seolah pihaknya menggalang dukungan untuk Mega-Hasyim. "Saya punya VCD aslinya. Di situ tidak ada kaitan dengan politik. Itu pertemuan rutin dan silaturahmi biasa," katanya semalam. Dia malah menanyakan, VCD apa saja yang diputar dalam pertemuan Iluni itu. Ketika diberitahukan VCD itu mengenai pertemuan Kapolwil Banyumas Kombes Pol AA Mapassar di Polres Banjarnegara, Widiyanto membenarkan sekitar April 2004 ada silaturahmi dengan purnawirawan dan warakawuri. "Itu hal rutin dan tradisi tiga bulanan." Dalam acara itu, ada sekitar 60 orang yang hadir, dan Kapolres Widiyanto yang memandu acara. "Memang ketika itu ada yang menanyakan bagaimana dengan pemilu apakah ada arahan. Tapi, dijawab tidak ada. Pilihlah sesuai hati nurani," katanya. Mengenai dugaan yang hadir diberikan uang, Kapolres mengatakan dalam setiap pertemuan dengan purnawirawan dan warakawuri ada yang diberi sekadar uang transport.(bn,di,ant-33t) |