| Senin, 26 Juli 2004 | SEMARANG |
Ketika Anak-anak Berimajinasi dengan Lempung''SAPA sing isa ngalahke bocah cilik? Abot, pokoke abot,'' (Siapa yan bisa mengalahkan anak kecil? Berat, pokoknya berat),'' ujar perupa Semarang, Bowo Kajangan, sembari terkekeh-kekeh. Tawa itu adalah olok-olok atas kejumawaan orang dewasa yang acap mengintepretasi imajinasi liar anak-anak. Ceritanya, seusai acara bengkel kerja ''Bermain-main dengan Tanah Liat'' di Perum Taman Bukit Hijau (Green Wood) Semarang, Sabtu (24/7) sore, dia menunjukkan sebuah patung tanah liat karya seorang peserta kepada beberapa seniman lain serta beberapa konsultan acara. Lik Bowo, demikian lelaki itu akrab dipanggil, menanyakan kepada mereka benda yang dimaksud anak yang membuatnya. Hampir semua orang dewasa itu menebaknya sebagai asbak, mengingat bentuknya kotak, menyerupai tempat abu rokok. ''Kecangar semua, ini kolam, wong tadi anak itu bilang sama saya,'' ujar Bowo sambil terkekeh. Antusias Meski berasal dari generasi yang lebih akrab dengan permainan modern seperti game komputer dan mobil-mobilan remote control, para peserta terlihat antusias mengikuti kegiatan tersebut. Selama hampir dua jam, anak-anak berusia 3-10 tahun itu asyik bermain tanah liat dipandu pematung Irin Winachto (akrab dipanggil Wien Patung) dan beberapa seniman Sanggar Seni Paramesthi lain. Mereka duduk berhadap-hadapan beralas terpal yang digelar memanjang oleh panitia. Di hadapan mereka, masing-masing tersedia selembar plastik tipis sebagai peranti kerja. Sementara para orang tua duduk bergerombol di atas kursi lipat, memperhatikan apa yang dilakukan buah hati mereka. ''Adik-adik, membuat burung itu mudah, pertama buat dulu badannya, kepalanya, lalu sayap dan ekornya,'' tutur Wien Patung lembut, seraya mempraktikkan apa yang dia ucapkan. Sebagian anak serius memperhatikan contoh yang diberikan Wien. Sebagian lain acuh tak acuh dan tetap asyik membentuk sendiri tanah liat dengan kedua tangan mereka. Monique (6), misalnya, malah membuat tempayan kecil lengkap dengan tutupnya. Murid SD Tritunggal, Jl Madukoro Semarang itu kemudian menambahkan motif bunga-bungaan di atas permukaan tempayan dengan seporong ranting yang telah diruncingkan. Laiknya karya anak-anak, bentuk dan tekstur tempayan yang dia buat terlihat kasar. Bengkel kerja dilaksanakan dua hari. Pada hari kedua (25/7), digelar wayang lempung dengan lakon Buaya Terbang yang dimainkan Widyo ''Babahe'' Leksono dan seniman Paramesthi. Sebagian karya peserta digunakan sebagai media penceritaan.(Rukardi-89) |