logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 26 Juli 2004 SEMARANG
Line

Enam Sekolah Asing Ajukan Izin Masuk

SEMARANG-Proses liberalisasi dalam beberapa dekade terakhir, membuat dunia pendidikan Indonesia menerima tantangan baru. Tantangan itu berupa banyaknya penawaran berbagai lembaga pendidikan asing untuk masuk ke Indonesia.

''Saat ini kami telah menerima permintaan (request) dari enam negara, yakni Amerika Serikat, Australia, China, Jepang, Korea, dan Selandia Baru. Intinya, mereka minta diperbolehkan membuka sekolah di Indonesia,'' ungkap Puji Indradi SE MM dari Subdin Perencanaan dan Pengembangan (Renbang) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Minggu (25/7).

Di hadapan para guru yang mengikuti Rapat Kerja (Raker) Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Nasima itu Puji menyampaikan sebagai anggota World Trade Organization (WTO), Indonesia terikat mekanisme request and offer antaranggota. Request meminta negara anggota WTO lain membuka pasarnya, sedangkan offer mengacu pada hak untuk mengajukan penawaran pada negara lain. Termasuk di dalamnya, request and offer dalam bidang pendidikan. ''Salah satu cara menghadapi persaingan dengan institusi pendidikan asing adalah dengan mengadakan kelas imersi,'' kata Puji.

Kelas imersi adalah kelas yang dalam pembelajarannya berpengantar bahasa asing.

Bilingual sejak 1997

Gagasan kelas imersi bergayung sambut dengan konsep pembelajaran di YPI Nasima. Sebab, untuk membawa siswa menjadi kompetitif pada masa depan, tidak ada pilihan lain kecuali memberikan kemampuan ekstra dalam hal berbahasa asing. ''Kalau perlu, bukan hanya tak bahasa Inggris tetapi juga bahasa Mandarin atau bahasa Arab,'' ujar Ilyas Johari SPd, Sekretaris YPI Nasima.

Sebenarnya, sejak 1997 YPI Nasima telah mencanangkan program pembelajaran berbahasa Inggris. Hanya, sekolah itu tidak menerapkan kelas imersi tetapi kelas dwibahasa (bilingual).

Baru pada 2002, sekolah itu menggunakan konsultan bilingual dari Jakarta untuk menajamkan konsep dan pelaksanaan pembelajaran di kelas dwibahasa.

Untuk memperkuat atmosfer kelas bilingual, di tiap kelas sudah terpasang papan pajang (display) nama-nama benda dalam tiga bahasa: bahasa Indonesia, Jawa, dan Inggris. Di sebelah pintu, misalnya, tertulis pintu, lawang, dan door. (amp-64k)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA