| Senin, 26 Juli 2004 | SEMARANG |
Lampu Kolam Retensi Akan Ditambah
BALAI KOTA - Dinas Pertamanan dan Pemakaman Kota Semarang akan memasang empat lampu hias di tepi kolam retensi di depan Stasiun Tawang. Lampu-lampu yang akan dipasang di lokasi itu mirip lampu hias berbentuk payung seperti yang dipasang di Jalan Pahlawan dan Balai Kota. Penjelasan itu disampaikan Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman Kota Semarang Drs Suseno MM, Sabtu (24/7), terkait dengan rencana menjadikan kolam retensi itu sebagai tempat wisata. Dia mengatakan, lampu-lampu itu merupakan ungkapan selamat datang bagi para penumpang kereta api yang turun di Stasiun Tawang. Sesuai dengan fungsinya sebagai penghias, lampu-lampu itu dapat memperindah pemandangan sekitar kolam pada malam hari. Apalagi nanti Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Semarang berencana selama tiga bulan membuka tempat itu pada malam hari, terutama pada malam-malam hari libur. Suseno menyebutkan, bagian barat kolam tersebut saat ini telah dipercantik dengan tanaman-tanaman hias. Rencananya, di sekeliling kolam juga akan ditanam pohon ketapang. Dia tidak menyebutkan jumlah pohon yang akan ditanam, tapi diharapkan tanaman itu akan membuat sekeliling kolam tersebut rindang. Soal adanya kemungkinan tanaman hias tersebut nanti dicuri, dia meminta warga ikut merawat dan menjaganya. Bagaimanapun, taman itu akan membuat kolam tersebut lebih asri dan pemandangan itu bisa dinikmati pula oleh warga sekitar. ''Kami akan berkoordinasi dengan warga lingkungan sekitar kolam agar mau bersama-sama menjaga,'' kata dia. Mahal Tanaman hias di barat kolam sudah ada beberapa yang berbunga warna-warni. Di lokasi itu juga ada beberapa jenis palem yang baru ditanam. Lalu, di sekeliling kolam, tanaman-tanaman hias ditanam di puluhan pot besar. ''Kami memang mendapat kesempatan dari Pemkot untuk mempercantik lokasi itu dengan tanaman-tanaman hias,'' kata teknisi dari CV Sumber Sarana Bambang Setyobudi. Beberapa tanaman hias itu, antara lain lantana, pandan bangkok, suka hawa, palem putri, palem ponik, erpa, adem hawa, dan bakung. Sebagian tumbuhan itu dibeli di Kabupaten Semarang, sebagian lagi dibeli dari grosir bunga di Jawa Timur. Menurutnya, tanaman yang cukup mahal adalah tiga palem ponik yang didatangkan dari Malang. ''Per batang palem ponik setinggi 50 cm kami beli Rp 100.000,'' kata dia. Penanaman tanaman tersebut menurutnya tidak sulit. Sebelumnya, tanah di lokasi itu digali dan diaduk-aduk dengan campuran pupuk. Pupuk itu sebelumnya telah dibiarkan terbuka tiga hari untuk menghilangkan gasnya. Setelah tanah bercampur pupuk siap, pohon itu ditanam. Dia mengakui adanya kemungkinan tanaman-tanaman di lokasi itu dicuri orang. Jika pada masa perawatan enam bulan ada tanaman hilang, pihaknya terpaksa menggantinya. ''Karena itu, sebaiknya Pemkot melakukan upaya menjaga tanaman tersebut.'' (G6-84e) |