| Senin, 26 Juli 2004 | SEMARANG |
Dugaan Korupsi di Yayasan Taqwiyatul WathonKetua Tim Sembilan Minta Perlindungan PolisiSEMARANG UTARA-Polemik dugaan korupsi ditubuh Yayasan Taqwiyatul Wathon (TW) Tambaklorok hingga kini terus memanas. Ketua Forum Pemuda Tambaklorok Agus Salim (33) mengatakan ada upaya kurang sehat yang dilakukan sejumlah orang yang pro Ketua Yayasan TW, Soebowo, terhadap mantan Ketua Tim Sembilan, Ali Ridho SAg. Menurut dia, Ali Ridho didatangi sejumlah orang sampai empat kali, Jumat malam lalu. Mereka menanyakan mengenai posisi Ali Ridho, terkait posisinya sebagai Ketua Tim Sembilan. Bahkan mereka memaksa meminta data laporan pertanggungjawaban Soebowo yang telah diberikan kepada Tim Sembilan. Terkait dengan kejadian itu, lanjut Agus Salim, Ali Ridho telah meminta perlindungan kepada aparat Polwiltabes Semarang. Sebab, Ali Ridho dan sejumlah orang yang tergabung dalam tim sembilan, merasa khawatir karena ketenanganya mulai terganggu. Bahkan, dia sendiri sempat didatangi rumahnya dan pintu rumah digedor-gedor seseorang, Sabtu malam. Begitu terbangun dia langsung mengejar pelaku dan berusaha memotretnya. Bahkan ketika dia tertidur, sejumlah orang dekatnya menginformasikan kalau sejumlah warga berkumpul di depan rumahnya. ''Saya tidak tahu apa yang mereka lakukan. Yang jelas, saya sangat menyesalkan cara-cara seperti itu. Tetapi saya berkeyakinan itu bukan suruhan Soebowo. Namun cara seperti itu kan kurang bijaksana,'' katanya kepada Suara Merdeka, kemarin. Tunjuk Pengacara Guna mempersiapkan gugatannya, dia telah menunjuk pengacara Ahmad Zaid SH dari Forum Pengacara Muda Jawa Tengah. Dengan begitu, dia tidak akan main-main terhadap laporannya ke Polwiltabes Jumat lalu. Karena itu, dia berharap semua pihak bersikap dewasa. Sebab permasalahan itu sudah ditangani kepolisian. Dari hasil penyelidikannya, dia menemukan beberapa pelanggaran Soebowo selama mengelola yayasan. Pertama, catatan nota pembelian genting untuk SD Islam Taqwiyatul Wathon, yang tidak sesuai jumlah yang ada. Pada nota tertulis 13.000 buah, namun kenyataan pada fisik bangunan hanya 4.746 buah. Selain itu, kata dia pada nota pembelian pasir tertulis empat truk dan dua colt. Bila dijumlahkan sebanyak 50 m3. Namun kenyataannya pada fisik bangunan sekolah berkisar hanya 14 m3 saja. Bahkan, Soebowo dia tuding tidak melaporkan hasil penjualan barang-barang bekas aset masjid dan tidak melaporkan posisi keuangan para donatur setiap tahun sekali. Soebowo menyatakan bersedia akan membeberkan keterangan kepada polisi, bila ada panggilan. Bila tidak terbukti, dia bersama warga sekepakat akan menuntut balik kepada pelapor, Agus Salim. Karena dinilai telah mencemarkan nama baiknya, dia akan menuntut Rp 1 miliar.Mengenai adanya upaya intimadasi oleh warga, dia membantah. Kedatangan warga yang pro terhadap dirinya itu inisiatif warga sendiri. Mereka ingin memastikan apakah Tim Sembilan masih eksis atau tidak. Sebab per 28 Mei 2004 lalu, tim menyatakan sudah membubarkan diri. ''Saya juga bertanya-tanya, kenapa Agus Salim yang bukan anggota tim bisa mendapat data laporan tersebut. Itu kan bukan haknya, sedangkan panitia belum menanggapi laporan saya. Untuk memberikan keterangan juga butuh laporan yang sudah saya serahkan kepada tim itu,'' katanya. Mengenai dana SD Islam TW, kata dia sejak tahun 1998-2003/2004 yayasannya mendapat pemasukan sebesar Rp 546.734.500. Uang itu diperoleh dari penerimaan siswa baru tahun 1998/1999-2003/2004 Rp 28.784.500, SPP Rp 473.450.000, kas SD Rp 40.000.000 dan bantuan Walikota Rp 4.500.000. Adapun total pengeluaran sebesar Rp 556.447.395. Dengan demikian, posisi keuangan yayasan devisit Rp 9.710.895. Pengeluaran itu terdiri atas pengeluaran rutin Rp 426.349.865, honor pesuruh Rp 8.280.000, THR guru dan karyawan Rp 10.193.500, honor pendaftaran PSB Rp 9.674.550, rehab gedung lama Rp 51.973.630 dan bangunan baru Rp 49.975.850.(G5-64) |