| Senin, 26 Juli 2004 | KEDU & DIY |
60 % Kegiatan PMI Ditopang MasyarakatKEBUMEN - PMI pada masa mendatang harus mampu menjalin kerja sama dengan berbagai pihak. Seperti di Kabupaten Kebumen, 60 % kegiatan berjalan sukses berkat peran serta dan dukungan masyarakat. Hal itu diungkapkan Wakil Ketua PMI Cabang Kebumen yang juga Kepala Unit Tranfusi Darah (UTD) dr H Hantoro saat menerima kunjungan studi banding PMI Cabang Kudus dan UTD Salatiga, Rabu lalu. Kunjungan dipusatkan di UTD Kebumen yang memiliki gedung mandiri dua lantai berikut ruang laborat, gudang, kantor, musala, garasi, dan tempat cuci mobil. Bahkan saat ini PMI memiliki sebuah minibus bantuan Pemkab untuk unit tranfusi darah . Dokter Hantoro mengatakan, pihaknya merintis UTD sejak 1978 selepas dari Malaysia. Dia lalu membeli sebidang tanah persis di pojok barat RSU Kebumen. Tanah tersebut dijadikan kantor UTD. Atas bantuan berbagai pihak, khususnya masyarakat, kini telah dibangun ruang dua lantai seluas sekitar 260 m2 beserta alat laborat yang berharga ratusan juta dengan dilayani oleh tiga dokter. Hantoro mengakui, sumbangan paling besar dalam perwujudan gudang beserta alat laborat dan dua buah kendaraan itu adalah dari masayarakat. Yakni 60%, sisanya PMI Cabang, UTD, dan bantuan Pemkab. Dia lantas mengungkapkan pengalamannya membangun laborat dua lantai itu. Misalnya untuk semen dan besi, dia sering mengontak para pengusaha. Demikian juga untuk genting atau kayu. ''Uniknya, meskipun para pengusaha keturunan Tionghoa jumlahnya sangat sedikit, mereka malah menyumbang material kepada kami paling banyak. Ini juga berkat pendekatan dan sosialisasi pentingnya peran PMI,'' lanjut Hantoro. Terhadap dukungan Pemkab, Hantoro menyatakan, lembaga itu memang harus didekati. Apalagi pada era otonomi, Pemkab memiliki kewenangan sangat besar. Asal ada pendekatan yang baik, pasti mau membantu PMI. Milik Rakyat Hantoro mengungkapkan, PMI sebenarnya milik rakyat. Sebab darah yang dikumpulkan itu dari rakyat, selanjutnya ditranfusikan kepada yang membutuhkan. Dana bulan bakti juga ditopang masyarakat. Karena itu, pihaknya selalu berusaha meningkatkan dedikasi tenaga UTD ataupun cabang melalui kerja sama dengan semua pihak. Dia mengakui, di beberapa daerah hubungan PMI dan UTD kurang harmonis. Itu bisa dipahami dan menjadi dinamika untuk saling melengkapi. Asal ada kebersamaan, transparansi, dan bisa dipertanggungjawabkan, semua bisa teratasi. Sementara itu Wakil Ketua PMI Kudus Munaji mengaku senang diterima secara familiar oleh PMI Kebumen. Kedatangan rombongan PMI Kudus dan Salatiga 17 orang itu tujuannya untuk belajar dan menjalin kerja sama. ''Kami juga ke PMI Purbalingga,'' jelas Munaji didampingi Kepala UTD Kudus dr Budiono MS. (B3-20n) |