| Senin, 26 Juli 2004 | BUDAYA |
Bukan Sekadar Musik Gesek BiasaDIAWALI komposisi musik gubahan Peter Warlock berjudul ''Capriole'', Konser A Mild Sa'Unine String Ensamble di gedung Balairung Utama UKSW membuat terkesima penonton, Jumat malam (23/7). Kemampuan memainkan instrumen musik sebuah kelompok musik gesek Sa'Unine asal Yogyakarta itu patut diacungi jempol. ''Air'', sebuah karya yang sangat melodius dari JS Bach dan sering digunakan sebagai musik terapi, juga dibawakan dengan apik. Bahkan malam itu, para pemain menawarkan improvisasi berupa sisipan jaz pada komposisi itu sehingga menggugah keingintahuan penggemar musik klasik. Tak ayal lagi, usai membawakan komposisi dengan sempurna tanpa kesalahan, penonton yang memenuhi Balairung Utama memberikan tepuk tangan. Komposisi ketiga yang berjudul ''Waltzer'' (dari Serenada, Op 48 No2) karya Tschaikovsky mampu membawa penonton pada suasana dansa ala bangsawan Eropa. Lalu dilanjutkan dengan ''Di Bawah Sinar Bulan Purnama'' karya Maladi, ''Ases Tod'' (Teer Gynt Suite1 Op 46 No 21) dan ''Anitras Tanz''. Dua komposisi yang terakhir disebutkan adalah karya Edward Grieg. Personel Sa'Unine yang beranggotakan 20 orang tersebut memainkan 12 repertoar dalam komposisi klasik, jazz, pop, dan keroncong. Mereka terdiri atas enam pemain biola 1, lima pemain biola 2, empat pemain biola alto, tiga pemain cello, dan dua pemain kontrabass. Konser kerja bareng A Mild dan Fakultas Seni Pertunjukan UKSW dalam rangka grand opening gedung baru fakultas itu, diselingi break selama 15 menit dan dilanjutkan dengan sesi II. Secara berturut-turut dimainkan komposisi ''First Polovtsan Dance'' karya Alexander Borodin, dan ''Tritsch, Tratsch Polka Op 214'' karya Johann Stauss. ''Rumanian Folk Dance'' karya Bela Bartok yang biasanya dimainkan untuk solo piano, malam itu dimainkan dengan alat gesek. Kemudian didendangkan lagu wajib pemain gesek yang biasa disebut musik kamar berjudul ''Eine Kleine Nachtmusik'' (1st movement) karya Wolfgang Amadeus Mozart. ''Meskipun merupakan lagu wajib pemain gesek, bukan berarti mudah dimainkannya,'' ujar Oni, personel Sa'Unine yang malam itu sebagai juru bicara di setiap pergantian komposisi. Konser diakhiri dengan ''Beauty and the Beast'' karya Alan Menken. Kontan penonton langsung memberikan standing ovation (tepuk tangan sambil berdiri), setelah Sa'Unine menyelesaikan repertoar terakhirnya. Repertoar yang dimainkan terakhir itu umumnya sudah tidak asing bagi telinga penonton. Apalagi ditambah dengan kemampuan Sa'unine yang berhasil menciptakan suasana komunikatif. (Surya Yuli-81) |