logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 26 Juli 2004 BANYUMAS
Line

SMPN 1 Meraih Standar Nasional

BANJARNEGARA - Para siswa, orang tua/wali murid, dan guru SMPN 1 Banjarnegara boleh bangga. Sekolah yang berkampus di Jl Dipayuda (barat rumah dinas Bupati) itu, pada Tahun Pelajaran 2004/2005 berstandar nasional.

Sekolah yang memiliki 706 siswa itu kini menjadi rujukan sekolah lanjutan lain yang setingkat di kabupaten ini, terutama dalam penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).

''Semula sekolah yang mendominasi ada tiga, yaitu SMPN 1, SMPN 2 Banjarnegara, dan SMPN 1 Wanadadi. Entah kenapa yang masuk hanya SMPN 1 Banjarnegara,'' kata Kepala SMPN 1 Drs Agus Wahyu SPd MPd, kemarin.

Salah satu kriteria penilaian untuk bisa masuk standar nasional, jelas Agus, sekoalah itu memiliki rata-rata nilai ujian akhir nasional (UAN) minimal 6,7. Ternyata, nilai rata-rata siswa tamatan SMPN 1 pada tahun pelajaran lalu bisa mencapai 7,2.

''Berarti sudah di atas rata-rata batas minimal nilai UAN. Itu sudah dicapai sejak Tahun Pelajaran 2002/2003,'' ujar alumnus FPIPS IKIP Semarang itu.

Mantan Kepala SMPN 2 Banjarnegara mengakui, tidak mudah meraih predikat standar nasional. Semua itu tak lepas dari kerja keras para siswa, orang tua murid, dan para guru pembimbing.

Setelah masuk standar nasional, lanjut dia, otomatis pada Tahun Pelajaran 2004/2005 sekolah ini harus menerapkan KBK. Penerapannya tak hanya berlaku bagi siswa dan guru, tetapi juga bagi tenaga administrasi sekolah.

Awal Juli lalu, Kepala Sekolah dan beberapa guru diundang ke Yogyakarta untuk mengikuti penataran KBK yang diselenggarakan Depdiknas Pusat selama seminggu. Kegiatan itu untuk membekali Kepala Sekolah dan guru dalam menyiapkan penerapan KBK.

Diawasi

Sama dengan sekolah lain, Senin-Rabu kemarin 240 siswa kelas I menjalani masa orientasi siswa (MOS). Tujuannya untuk mengenalkan siswa kelas I dengan lingkungan sekolah yang baru.

''Materinya antara lain pengenalan lingkungan sekolah, proses belajar, dan wawasan Wiyata Mandala,'' ujarnya

Selama MOS, setiap pagi seluruh siswa kelas I melaksanakan upacara. Setelah itu mereka diberi materi dengan dibimbing oleh guru kelas.

''Hanya materi OSIS dan peraturan baris-berbaris yang diberikan oleh siswa kelas III. Namun tetap di bawah pengawasan wali/guru kelas,'' tambahnya.

Dia menjamin tak ada kegiatan yang menjurus pada perpeloncoan atau sejenisnya. Sebab, para guru pembimbing selalu ditekankan untuk mengawasi jika ada kegiatan yang menyimpang dari koridor.

Pada minggu pertama belum semua siswa kelas I mengenakan seragam SMP (putih biru). Mereka saat itu masih mengenakan seragam SD (putih merah).

''Kita memaklumi, mungkin seragam yang baru belum jadi sehingga masih memakai yang lama,'' kata Agus Wahyu. (A9-85r)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA