logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 26 Juli 2004 BANYUMAS
Line

RRI Klangenan Masyarakat Pinggiran

RRI akan kehilangan pendengar? Pertanyaan ini memang sempat menjadi kekhawatiran tersendiri bagi pengelola radio pemerintah ini. Termasuk Stasiun RRI Purwokerto, saat bermunculan radio-radio siaran swasta di wilayah tersebut.

Selama era reformasi radio swasta tumbuh pesat. Bahkan karena jumlahnya terlalu banyak, untuk menentukan frekuensi gelombang kadang tumpang tindih, karena tak kebagian lagi nomor gelombang siaran.

Kurun waktu lima tahun terakhir ini radio swasta dinilai mampu menawarkan program-programnya dan mudah diterima pendengar, terutama bagi kalangan remaja dan anak muda. Namun, setelah berhasil menggaet pendengar, mampukah radio-radio swasta itu mempertahankan eksistensinya? Barangkali jawabnya diserahkan pada penilaian pendengar sendiri.

RRI meski terlihat berjalan santai, ternyata masih mendapat simpati dari kalangan orang tua dan masyarakat pedesaan. Radio tertua itu dianggap sebagai ruang klangenan bagi pendengar usia tua. Mereka masih tetap setia, meski RRI sekarang telah dikepung oleh radio-radio swasta.

Secara teknis pendengar menilai, RRI itu lebih bagus, terutama untuk bagian produksi dan rekanam.

Relatif Jauh

Radio ini juga punya keunggulan lain. Yaitu daya jangkau siarannya relatif jauh. Bahkan mampu menjangkau daerah pedesaan dan pegunungan. Program-program siarannya juga berbobot. Di daerah seperti Purwokerto, radio swasta jarang menyajikan program siaran berita dengan menurunkan tim khusus seperti reporter.

Tak heran hampir tiap hari RRI selalu kedatangan berbagai komponen masyarakat yang minta untuk disiarkan secara langsung ataupun rekaman. Bahkan mereka kadang datang dari jauh, dari daerah pinggiran secara berkelompok, sekadar untuk bisa diikutkan dalam acara siaran.

Mereka yang datang ini juga mengaku tidak dibayar. Ini terutama untuk mengisi program siaran bertajuk kesenian. Di antaranya mengisi kesenian Banyumasan seperti campursari, kolintang, calung, hadrah ataupun keroncong.

''Kami malah yang minta bisa disiarkan. Untuk rekaman seperti ini kami harus mendaftar dulu, bukan kami diundang,'' ujar Ny Aida, salah satu anggota kesenian Hadroh Tambaksari Kecamatan Kembaran, saat ditemuai Suara Merdeka di ruang rekaman.

Untuk datang ke RRI, mereka juga terpaksa iuran guna menyewa mobil. ''Kami tidak dibayar. Karena kami yang minta ya kami harus urunan sendiri. Yang penting kami senang dan bisa didengarkan orang banyak,'' tambah Ny Trijoko pemimpin grup musik rebana ini.

Sebenarnya banyak program RRI yang bisa menjadi unggulan, di antaranya program berita dan acara-acara dialog. ''Dalam segi kualitas rekaman kami masih bisa unggul. Sebab, rekaman untuk orang banyak dan dengan musik yang beragam hasilnya tetap bisa sterio. Radio swasta jarang bisa seperti RRI,'' papar Triyanto Utomo, bagian Produksi RRI Purwokerto. (Agus Wahyudi-85k)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Liputan Pemilu | Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA