logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 24 Juli 2004 PANTURA
Line

Sate Ayam Sarimadu

"Hangatkan Perut Dulu, Baru Lari Lagi"

PENGGEMAR sate, tentu tak akan membantah jika Madura disebut sebagai salah satu daerah yang punya label city menu makanan tersebut. Maka tak heran, jika banyak penjual sate dari kepulauan itu yang hijrah ke berbagai daerah untuk berjualan sate.

Bumbu sate ayam madura, selalu menyajikan rasa khas yang membedakan dengan sate lainnya. Sambal pedas dan sate yang gurih, memang lebih enak jika disantap pada malam hari. Makanya, sebagian besar penjual sate ayam madura di Pekalongan membuka dagangannya pada sore dan malam hari.

Namun, penjual tetap saja penjual. Mereka selalu saja bisa melihat peluang bisnis. Jika waktu lain tak bisa menyedot pembeli, maka akan dilakukan sedikit inovasi rasa. Itulah, yang ditempuh Maman (26), penjual sate ayam madura yang sekarang tinggal di Perumahan Tirto Indah Pekalongan.

Penjual sate kelahiran asli Madura itu, mulanya hanya membuka dagangan pada sore dan malam hari di sekitar Alun-alun Pekalongan. Namun, begitu melihat ada pusat keramaian baru, yaitu di sekitar Lapangan Mataram pada pagi hari, dia pun membuka dagangannya di lokasi tersebut.

Pada pagi hari, khususnya Jumat dan Minggu, lapangan Mataram memang menjadi pusat keramaian baru. Warga berbondong-bondong datang berolahraga, sekaligus berekreasi bersama keluarga. Aktivitas olahraga beramai-ramai itu, dimanfaakan para penjaja makanan, sehingga trotoar sekitar Lapangan Mataram selalu dipenuhi penjual makanan; mulai bubur ayam, nasi kuning, nasi gudeg, soto, sampai menu jenis lain.

Maman yang baru berjualan sate delapan bulan yang lalu, juga membaca peluang bisnis dari pusat keramaian baru tersebut. Dua bulan lalu, dia mulai membuka daganganya di sekitar trotoar lapangan tersebut. Awalnya, kata dia, sedikit sekali yang membeli dagangannya, karena memang pembeli di Pekalongan biasanya lebih senang makan sate ayam pada malam hari.

Dia pun akhirnya memutar otak; dibuatlah komposisi bumbu dan sambal sate yang lebih harum dan cocok untuk suasana pagi. Tempat makan yang biasanya menggunakan bangku, diubah menjadi lesehan, sehingga lebih santai dan cocok bagi mereka yang ingin melepas penat sehabis lari pagi.

Sate Sarimadu, itulah nama warung lesehannya, yang buka tiap Jumat dan Minggu pagi di salah satu bagian trotoar di Lapangan Mataram. "Kami sengaja menyiapkan resep khusus bagi mereka yang habis olahraga," ujarnya tanpa mau menyebutkan resep yang dimaksud.

Lebih Harum

Resep khusus itu, kata dia, berbeda dengan sate yang biasa dijualnya pada malam hari; yaitu lebih harum dan pedas sambalnya dikurangi, sehingga cocok untuk kondisi perut kosong, terlebih habis olahraga pagi.

Sate ayam pada pagi hari, disajikan dengan lontong. "Dagingnya dibuat lebih lembut dan harum, dikombinasikan dengan sambal kacang yang gurih. Ditanggung, pembeli tak akan kecewa," ujarnya setengah promosi.

Ujang (30), salah seorang pembeli yang biasa menghabiskan tujuh tusuk sate ayam, kepada Suara Merdeka mengaku selalu berhenti di warung sate Sarimadu, setelah berlari mengelilingi lapangan.

"Satenya enak, sambalnya harum dan pas, tidak membuat perut ngelilit (sakit-Red)," kata warga Desa Simbangwetan, Buaran, Pekalongan, yang mengaku penggemar berat sate ayam itu. (Muhammad Burhan-74a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA