| Sabtu, 24 Juli 2004 | PANTURA |
Kota Tegal Diterpa Bau Tak SedapTEGAL- Akibat musim kemarau belakangan ini, banyak sungai dan saluran di wilayah perkotaan Kota Tegal tak berair. Kondisi itu selain memudahkan nyamuk berkembang pesat karena genangan air yang tak mengalir juga menebarkan bau tak sedap. Sepanjang Jalan Gajah Mada misalnya, bau tak sedap itu terasa menyengat dan menebar di permukiman penduduk di timur jalan. Ini karena di situ terdapat Kali Sewon. Salah seorang pimpinan PT Sampoerna M Zahrudin kemarin mengakui, semua karyawan yang kantornya dekat dengan alur sungai tersebut setiap hari mencium bau tak sedap. Untuk itu, dia mengimbau DPU Pemkot Tegal agar segera mengadakan pengerukan sungai. Dia heran, sebenarnya lumpur di sungai itu beberapa bulan lalu sudah dikeruk namun bau tak sedap tetap menyengat. "Bau tak sedap itu muncul karena banyak rumah tangga dan pabrik tenun yang membuang air limbahnya ke sungai tersebu," ujarnya. Sementara itu, warga beberapa kelurahan yang tiggal di sepanjang tepi Sungai Gung, seperti warga Kelurahan Panggung, Kejambon dan lain-lain juga mengaku merasakan tidak nyaman karena setiap hari mencium bau tak sedap yang ditebarkan dari alur Sungai Gung. Hal yang sama juga dirasakan oleh warga yang tinggal di beberapa kelurahan sebelah barat Kota Tegal, seperti warga di Kelurahan Kemandungan dan Keluharan Pesrurungan. Ini lantaran air Sungai Kemiri sudah mulai mengering. Bahkan, bau tak sedap sering tercium pengunjung Hotel Bahari yang lokasinya tak jauh dari alur sungai itu. Buang Hajat Kepala DPU Ir M Wahyudi didampingi Kasubdin Perencanaan Ir Gito Mursriyono ketika dihubungi kemarin mengakui, pada saat kemarau memang timbul bau tak sedap. Ini lantaran letak Kota Tegal di pesisir sehingga bila kemarau datang tak ada air dan sebaliknya jika musim penghujan banjir. Saat kemarau ini, ujar Gito, sungai tak mendapat gelontoran air dari daerah atas. Ini karena air yang terbatas hanya untuk keperluan irigasi. Kondisi alur sungai yang mengering itu ditambah lagi dengan sikap dan perilaku warga yang membuang hajat besar di alur sungai. Di Jalan Gajah Mada misalnya, tutur Wahyudi, batu penutup lobang sungai sengaja dibuang warga yang hendak buang hajat.(aj-14j) |