| Sabtu, 24 Juli 2004 | PANTURA |
"Jangankan Pembeli, Orang Lewat Saja Jarang"SEBATANG rokok lintingan terselip di bibir Darsono (45). Beberapa kali dia menarik napas panjang, diiringi gumpalan asap yang membumbung. Raut mukanya tampak muram. Sejak pagi buta, pedagang loakan asal Desa Pangkah, Kabupaten Tegal itu sudah berangkat dari rumah. Menjelang matahari terbit, seluruh dagangannya sudah digelar rapi. Namun hingga siang, lokasi gang tempatnya mangkal masih tetap sepi pengunjung. Bahkan hingga menginjak azan zuhur, tak satu pun pengunjung yang datang menghampiri dagangannya. Darsono adalah salah satu dari 50-an pedagang loak yang masih bertahan membuka dagangannya di depan pasar pagi Kota Tegal. Sudah setahun ini, pedagang loak di tempat itu mengeluhkan sepinya pengunjung. "Wah, jangankan pembeli, orang lewat saja sekarang sudah jarang," kata Darsono. Akibat kondisi tersebut, dia kini hanya bisa pasrah. Penjual loakan yang sudah sepuluh tahun mangkal di tempat tersebut itu, kini tidak dapat mengandalkan dagangan untuk menghidupi dirinya sendiri; apalagi untuk membiayai sekolah anaknya yang kini masuk SMP. Diceritakan, pada 1995-1996-an lokasi gang di depan pasar pagi ramai dikunjungi pembeli. Saat itu, lebih dari 50 pedagang loak dari berbagai daerah menggelar dagangan di tempat tersebut. Pada saat itu, aku Darsono, ia mendapat pemasukan hingga Rp 50 ribu per hari. Para pedagang loak di tempat itu, biasanya mendapatkan barang rongsok di Tranyeman Slawi dan Karanganyar Kota Tegal. Tidak jarang, mereka juga mengambil barang rongsokan dari pedagang rongsok yang mangkal di Alun-alun Kota Tegal. "Setelah berkeliling di kampung-kampung, mereka biasanya mangkal di Alun-alun Kota Tegal," kata Darsono. Selain itu, ada pula warga yang langsung menjual barang kepada mereka. Perkembangan pasar loak di pusat kota Tegal yang tergolong pesat itu, nampaknya dianggap mengganggu ketertiban umum. Buktinya, HM Zakir, wali kota saat itu, kemudian memindahkan para pedagang ke Desa Cinde. Namun lokasi baru tersebut rupanya tidak menarik minat pengunjung. Para pedagang loak mengeluh, lantaran omzet penjualan turun drastis. Berkurang Secara berangsur-angsur, para pedagang mulai kembali ke lokasi semula. Namun demikian, musibah kembali menghantam mereka. Krisis ekonomi berkepanjangan yang dimulai 1997, membuat lokasi di depan pasar pagi tidak seramai sebelumnya. "Sedikit demi sedikit pengunjung di sini (depan pasar pagi-Red) berkurang," tutur Darsono. Kini, kejayaan pedagang loak pasar pagi nyaris tenggelam. Sebagian besar di antara mereka memilih banting haluan menjadi buruh atau merantau. Darsono sendiri mengaku masih bertahan, lantaran belum ada pekerjaan lain yang didapatkan. "Kalau saya berhenti, siapa yang membiayai sekolah anak saya," katanya. Dalam kondisi terjepit, dia masih dibebani uang retribusi Rp 300 setiap hari dan uang keamanan Rp 2.000 per minggu. "Saya juga masih punya cicilan utang modal di bank Kosipa," akunya. Yang lebih memprihatinkan, di tengah kesulitan ekonomi yang menghimpit Darsono masih harus dibebani biaya masuk sekolah anaknya yang tinggi. Anaknya nomor dua, kini masuk di SMP Pemda Kedungbanteng. Untuk dapat masuk sekolah itu, dia harus membayar uang buku dan pakaian sebesar Rp 350 ribu. "Ya, daripada tersingkir oleh siswa lain yang sanggup membayar, terpaksa saya mencari utangan ke sana ke mari," tuturnya. Impitan ekonomi, juga memaksa istri dan anaknya mencari penghidupan sendiri, dengan menjadi buruh di Jakarta.(Suwandono-14a) |