logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 24 Juli 2004 PANTURA
Line

Konde Dorce Laris di Pasaran

TREN mode kadang-kadang dapat dipopulerkan si pemakai. Nama besar Dorce Gamalama, artis terkenal yang kerap menjadi presenter di televisi swasta, ternyata dipakai untuk nama produksi konde perajin asal Kelurahan Limbangan Wetan, Kecamatan Brebes.

"Konde ini namanya Dorce atau di Jakarta sering disebut konde Buaya, karena bentuknya bulat di bagian atas, ke bawahnya memanjang seperti tubuh buaya," papar Junaenah (33), perajin konde asal Kelurahan Limbangan Wetan itu.

Ditanya mengapa dinamai Dorce, dia mengatakan, artis tersebut sering mengenakan konde model buaya itu.

Satu buah konde produksi Junaenah harganya Rp 15.000. Namun, di kota metropolitan Jakarta, harga tersebut bisa lima kali lipat, bahkan sampai 10 kali lipat. "Ya kalau orang dari luar beli ke sini, kami menjual Rp 15.000," tutur dia yang didampingi suaminya, Ranyan (41).

Suami-istri tersebut sudah puluhan tahun menggeluti usaha kerajinan konde atau sanggul. Dia mewarisi usaha ibunya Torisah (almarhum) yang sudah membuka usaha sejak 1960-an. Selain pasangan suami istri itu, di Kelurahan Limbangan Wetan paling tidak ada 14 orang perajin sanggul. Mereka mengerjakan sanggul itu secara manual tanpa menggunakan mesin dengan melibatkan banyak tenaga kerja.

"Saya mempekerjakan empat orang tenaga kerja. Mereka bertugas menyasak, kemudian membuat gulungan bahan konde," papar Ranyan.

Menekuni usaha pembuatan sanggul pada era kemajuan zaman begitu pesat, sedikit pun tak terbersit pikiran bahwa barang itu tak laku di pasaran. Sebab kenyataannya, pesanan dari luar kota terus mengalir. "Biarpun para wanita sekarang jarang memakai konde atau sanggul, usaha ini ternyata tetap berjalan lancar," ujar Muidah, perajin yang lain.

Cara Membuat

Untuk membuat konde, perajin mengumpulkan rambut bekas potongan dari salon kecantikan. Bahan baku diperoleh dari pengepul yang datang ke para perajin. Bahan potongan rambut yang panjang dan pendek dipisah-pisah. Yang pendek mereka jadikan satu kemudian disasak menggunakan alat sederhana, sebuah kayu yang di atasnya dipasang jeruji sepeda motor yang ujungnya lancip seperti paku. Setelah penyasakan selesai, rambut direbus dicampur pewarna hitam.

Proses rebusan itu memakan waktu sampai dua jam. Setelah itu, bahan rambut dicuci dan dijemur di terik matahari.

Berikutnya, perajin menyasak kembali untuk dibentuk sesuai dengan keinginan. Apa mau dijadikan sanggul model Dorce, Dewi Tanggung, atau Dorce Modern.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA