logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 24 Juli 2004 PANTURA
Line

Tak Punya Kambing untuk Berkurban

PENAMPILAN Sohib (30), warga Desa Slatri, Larangan, Brebes, yang menjadi tersangka kasus pembunuhan istri dan anaknya tidak terlalu istimewa. Dia tidak mencerminkan sosok orang "pintar" atau bergaya dukun.

Namun, siapa menyangka akibat menekuni ritual kepercayaan batin yang salah kaprah, dia tega membunuh anaknya, Ali Sahrudin (6), dan istrinya, Rugayah (25), secara sadis dalam waktu bersamaan.

Padahal, lelaki yang sehari-hari bekerja berjualan pakan ternak terseut mengaku sangat menyayangi putra pertamanya yang masih duduk di kelas I Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Model Larangan itu.

Betapa tidak, hampir setiap hari dia mengajak jalan-jalan anaknya dengan naik becak motor. Tidak jarang pula dia mengantar anaknya ketika berangkat ke sekolah. "Sayang sih sayang. Cuma mau bagaimana lagi, demi kesempurnaan hidup dia saya jadikan korban. Habis saya tidak punya kambing. Jika tidak demikian, hidup saya tidak sempurna. Kan sudah diatur dalam agama, dalam hidup itu perlu berkorban," ujarnya sembari bergaya ceramah agama ketika di Mapolres, kemarin.

Dari bisikan gaib itulah, peristiwa sadis tersebut terjadi. Nyawa anaknya dia dijadikan korban untuk memenuhi hasrat kebutuhan spiritualnya. Apakah tersangka pernah berguru kepada seseorang? Sohib mengaku kepercayaan kebatinannya itu diperoleh dari mimpi. "Buat apa berguru. Toh kita sudah punya tuntunan agama. Korban itu kan wajib, dalam ajaran juga ada. Buat apa berguru? Apa yang kita punya bisa untuk berkorban."

Sering Uring-uringan

Dari sisi ekonomi kelurga, tersangka mengaku sering uring-uringan dengan istrinya. Dia bercerita, sejak memperistri Rugayah delapan tahun lalu, kehidupan ekonominya pas-pasan.

Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dia berjualan pakan ternak berupa rumput dan bekatul dengan menggunakan motor becak. Adapun istrinya berdagang telur asin sambil berjualan jajanan di sekitar sekolah anaknya.

Ketika ditanya mengenai kronologi kejadian tersebut, tanpa ada penyesalan yang berarti dia menuturkan, sebelum diketahui warga sekitar, mayat istri dan anaknya akan dikubur di tempat pemakaman. "Setelah saya bunuh, mayat istri dan anak saya taruh di pekarangan. Ya, akan saya kubur. Eh, malah sekarang kejadiannya begini. Istri mati, sehingga saya tidak bisa bikin anak lagi. Ya, sudah telanjur mau bagaimana lagi. Yang namanya hidup, saya siap mananggung risikonya," ujarnya.

Sementara itu, ibu korban, Ny Catem (60), warga Ketanggungan, tidak tahu persis kenapa tersangka tega membunuh istri dan anaknya. Padahal, kata dia, tiga hari sebelum kejadian, Darni (75), nenek korban menginap di rumah tersangka. Pada saat itu tidak ada masalah keluarga apa pun.

Sepengetahuan dia, sejak meminang Rugayah delapan tahun yang lalu, perilaku Sohib wajar-wajar saja seperti orang normal. "Kalau tahu punya penyakit seperti itu tentu dia tidak boleh meminang anak saya," ujar dia seraya menahan duka.(Dwi Ariadi-42e)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA