| Sabtu, 24 Juli 2004 | OLAHRAGA |
Jangan Biasakan Gelar MunaslubJAKARTA- Setiap induk organisasi olahraga semestinya jangan membiasakan menggelar Munaslub untuk mencari jalan keluar dalam menyelesaikan kebuntuan dalam dinamika organisasinya. Banyak cara lain untuk menyelesaikan kemelut organisasi akibat tidak berjalannya satu sistem. Misalnya memperkokoh kinerja pengurus yang ada dan melakukan konsolidasi internal yang mantap. Penegasan ini disampaikan Sekjen KONI Pusat Djohar Arifin Husin di Jakarta, baru-baru ini. ''Saya prihatin dengan adanya Munaslub pada beberapa induk organisasi. Munaslub memang hal biasa dalam setiap organisasi. Tapi ini jangan dibiasakan,'' ujarnya. Pernyataan Djohar Arifin Husin ini berkaitan dengan rumor akan diadakannya Munaslub PSSI. Munaslub tersebut digagas, karena Ketua Umum PSSI Nurdin Halid sedang menjalani penahanan karena dugaan keterlibatan kasus gula illegal. ''Masalah Munaslub PSSI adalah masalah internal mereka. KONI Pusat tidak punya wewenang untuk menggagas hal itu. Kami juga tidak punya kapasitas untuk menganjurkan. Itu wewenang murni di internal PSSI,'' tuturnya. Fasilitator Menurut dia, KONI Pusat siap bila diminta menjadi fasilitator untuk menggelar Munaslub PSSI. Munaslub adalah hal yang wajar dalam sebuah organisasi yang berhenti. ''Kami selalu mengkaji semua masalah dengan seksama. Memang ada aturan internasional kalau seorang yang terkena hukuman kriminal tidak boleh menjabat di sebuah organisasi olahraga. Ini kala statusnya sudah narapidana. Sekarang kita harus memakai azas praduga tak bersalah dulu,'' papar Djohar. Dia mencotohkan, Bob Hasan memang terkena hukuman penjara di Rutan Nusakambangan. Saat itu mantan Menperindag era Soeharto tersebut menjabat sebagai Ketua Umum PB PASI. Pengusaha kayu ini tetap menjadi pengurus karena tidak secara murni terkena kasus hukum. ''Bob Hasan lebih tepat kalau dikatakan kena kasus politik. Kami menganggapnya bukan kasus kriminal. Jadi dia tidak kena aturan internasional tersebut,'' tegasnya. (D3-22) |