| Sabtu, 24 Juli 2004 | INTERNASIONAL |
Arroyo Tegaskan Filipina Tetap Sekutu Kuat ASMANILA - Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo, Jumat kemarin, menegaskan kembali aliansi negeri itu dengan Washington setelah dia berusaha tidak menonjolkan krisis penyanderaan dan berupaya menentukan rencana penanganan kemiskinan, korupsi, dan aksi perlawanan di dalam negeri. Sebulan setelah memenangi pemilihan 10 Mei lalu, Arroyo, Senin lalu, menentukan arah selama priode enam tahun ke depan, dalam pidato kenegaraan yang diawali dengan sidang Kongres. Keputusannya menarik pasukan Filipina dari Irak untuk menyelamatkan sandera Angelo de la Cruz mendapat dukungan di dalam negeri, namun menjengkelkan pemerintah Washington. Para analis politik menyatakan rencana Arroyo menghidupkan kembali ekonomi Filipina lewat "penutupan lubang besar" dalam sistem perpajakan mungkin agak sulit dicapai. "Komitmen saya dan komitmen rakyat Filipina tidak goyah untuk menghadapi terorisme di dalam dan luar negeri," kata Arroyo dalam pidato di departemen luar negeri, kemarin. Pidato itu merupakan pernyataannya yang terperinci tentang kebijakan luar negeri sejak pembebasan De la Cruz awal pekan ini. "Saya mendukung penuh masyarakat dunia dan sekutu kita, Amerika Serikat, dalam perang yang terkordinasi," katanya. "Filipino First" Arroyo mengatakan, dia membela kepentingan pekerja Filipina di luar negeri pertama-tama lewat pemenuhan tuntutan kelompok anti-Barat yang menginginkan penarikan pasukan Filipina dari Irak. Melalui tema "Filipino first" dalam pidato kenegaraannya itu, pemerintahan Arroyo diharapkan berjalan lancar. Namun dia juga perlu memelihara hubungan dengan AS, yang memberikan Filipina bantuan militer dan sekaligus membantu Manila memerangi aksi perlawanan kelompok militan di selatan negeri itu dan pemberontak komunis. Dubes AS untuk Filipina, Francis Ricciardone, kembali ke Amerika Serikat hari Kamis untuk mengadakan pembicaraan di Washington setelah mengatakan AS kemungkinan meninjau kembali status Filipina sebagai "sekutu non-NATO utama". Hal itu dilakukan sebagai tanggapan atas apa yang disebut para pejabat AS, tunduk kepada teroris. Tujuh sopir asing disandera di Irak sehari setelah De la Cruz dibebaskan. Peristiwa itu menambah kekhawatiran bahwa penarikan pasukan Filipina dari Irak membuat kelompok anti-Barat meningkatkan aksinya. De la Cruz menghadiri misa dengan Arroyo di Manila, kemarin. (ant-46) |