logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 24 Juli 2004 EKONOMI
Line

SEKILAS EKONOMI

Gaza Produksi Miliki Local Content 80%

SOLO- Sejak orde baru, Indonesia sangat berambisi untuk memproduksi otomotif dengan label made in Indonesia. Namun baru terealisasi dalam perakitan. Merebaknya berbagai motor China serta berbagai merek sepeda motor bikinan Jepang yang berseliweran di kawasan nusantara, mendorong untuk merakit sepeda motor keluaran dalam negeri.

Sepeda motor merek Gaza adalah salah satu jawaban dari cita-cita bangsa Indonesia untuk memproduksi otomotif atau sepeda motor. Diproduksi PT Iga Abadi Motor Indonesia (IAMI) di Desa Wonokoyo, Kecamatan Beji, Pasuruan, Jatim, sepeda motor ini mencoba menghilangkan kesan sebagai motor China (mocin), karena memang ingin disebut sebagai motor Indonesia.

Meskipun belum 100% hasil produk semuanya menggunakan komponen dalam negeri, komponen sepeda motor ini 80% asli bikinan Indonesia. Antara lain bodi, velg, shock breaker, ban, rantai, lampu, dan sebagainya. Sisanya 20% masih impor. Meski demikian, sepeda motor Gaza yang diresmikan 18 November 2000 itu kini sudah mendapat kepercayaan dari konsumen. ''Untuk daerah Jawa Tengah dengan 32 kantor pemasaran cabang di berbagai kota, tiap bulan terjual 250 unit lebih,'' kata Pimpinan Wilayah Pemasaran Jateng PT IAMI, Urbanus Umbu Dangga.

Untuk sementara, PT IAMI baru memproduksi empat jenis sepeda motor, Elegance (tromol 100 cc), Brave DB Impressive (cakram 100cc), Flow DB 110 cc (cakram), Flow DB 110 (cakram/all OY). ''Kami mematok harga yang cukup kompetitif, di bawah Rp 10,juta dan paling rendah di bawah Rp 8 juta,'' kata dia.

Menurut Urbanus, Gaza mempunyai banyak kelebihan, selain irit bahan bakar (1 liter/70 km) juga mesin kuat, kualitas bisa dipertanggung jawabkan, hal ini dibuktikan ketika Minggu (18/7) diadakan Safari Gaza Solo - Kedungombo, diikuti 210 peserta, tidak ada keluhan serta semuanya berjalan lncar. Juga Safari Tawangmangu sampai ke perbatasan Jawa Timur (Cemoro Sewu) dengan tanjakan, bisa diatasi dengan lancar. Dia mengaku saat ini show room di Jalan Yos Sudarso 291 a Solo kehabisan stok, bahkan beberapa konsumen sudah mulai pesan (inden). ''Minggu ini hanya ada lima unit langsung terjual, dan sekarang menunggu kiriman dari Jawa Timur,'' tandasnya. (P44-82)

Permintaan Seragam Sekolah Masih Tinggi

SEMARANG- Meski tahun ajaran baru berlalu dan sekolah sudah dimulai sejak pekan ini, namun permintaan seragam sekolah hingga kemarin masih tetap tinggi, bahkan cenderung lebih meningkat. Beberapa produsen pakaian seragam sekolah mengaku tingkat penjualannya selalu mengalami peningkatan.

"Permintaan tahun ini mengalami peningkatan hingga 30 persen dibanding tahun lalu," kata Agung Pambudi, produsen seragam sekolah asal Pekalongan, ditemui saat mengirim stok ke pedagang di pasar Johar, kemarin.

Menurutnya, dari tahun ke tahun, permintaan seragam selalu dimulai beberapa bulan menjelang ajaran baru dan beberapa minggu setelah itu. Namun puncaknya sendiri biasanya mulai bulan Mei-Juni. ''Kalau untuk partai besar sekitar bulan kedua pemesanan berdatangan,'' ujarnya. Dia mengakui, harga jual seragam terus merangkak naik akibat berbagai hal seperti harga kain, upah tenaga kerja dan biaya transportasi. Namun, permintaan untuk produknya juga tidak terpengaruh oleh kenaikan harga itu. ''Untuk tahun ini, produksi kami mengalami kenaikan harga jual sekitar Rp 2.000 per potong. Kenaikan ini tidak bisa dihindari, mengingat harga bahan baku yang meningkat, ongkos jahit yang naik, ditambah upah pekerja yang juga harus mengikutinya.'' (G2-82)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA