logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 24 Juli 2004 BANYUMAS
Line

Perajin Bandol Meraup Rezeki dari Kenthongan

  • Turun-temurun sejak Zaman Belanda

KEMUNCULAN ratusan grup kenthongan di Kabupaten Banyumas dan sekitarnya membawa rezeki bagi perajin bandol di Grumbul Banaran, Kelurahan Pasir Kidul, Purwokerto Barat, Banyumas.

Sebab, semua pemain musik tradisional itu memakai seragam sepatu bandol buatan para perajin tersebut. Satu grup beranggota antara 30 dan 50 orang. Berarti ribuan pasang alas kaki telah dibeli para pemain kenthongan. Istilah bandol berasal dari kata ban bodhol (ban bekas).

Puluhan perajin di Banaran mengubah ban bekas menjadi sepatu, sandal, ayunan, pot bunga, kursi, karet timba, ember, dan suku cadang truk berupa karet pengganjal per belakang.

Saat ini grup kenthongan bermunculan di Kabupaten Purbalingga dan Cilacap. Grup di luar Banyumas juga memesan alas kaki ke Banaran.

Tertolong

''Saya mungkin sudah menjual antara 2.000 dan 2.500 pasang,'' tutur Anton (59), perajin bandol, baru-baru ini.

''Kula nggih sampun ewonan (Saya mungkin juga sudah menjual ribuan pasang),'' tutur Waris (50) perajin lain, di kiosnya.

Di grumbul itu ada puluhan perajin. Namun yang membuat sepatu seragam kenthongan cuma empat orang, yaitu Anton, Wiyono, Agus, dan Waris.

Pembuatan kerajinan dari ban bekas itu sudah berlangsung turun-temurun sejak zaman Belanda.

Anton mengatakan, banyak pesanan dari grup kenthongan menolong para perajin sehingga mereka bisa bertahan.

Sebelumnya, pemasaran sandal jepit produk andalan mereka beberapa waktu menurun.

Dia menjual sepatu seragam kenthongan mulai dari Rp 12.500/pasang sampai Rp 15.000, tergantung pada model dan bahan.

Akhir-akhir ini banyak pemesan meminta bagian selempang sandal tidak dari karet ban dalam, tetapi dari pisban yang biasa dipakai untuk gantungan tas sekolah.

Sampai setahun lalu pesanan dari grup kentongan di Banyumas ramai. Namun akhir-akhir ini berkurang. Mungkin karena sudah banyak grup, sehingga tak ada pembentukan kelompok baru.

Banyak pesanan justru dari Purbalingga dan Cilacap. Di daerah tetangga itu kini bermunculan grup baru. ''Tidak hanya pesan ke saya, juga ke rekan-rekan perajin lain sehingga ada pemerataan rezeki,'' kata Anton.

''Seniki sing ramai daerah Kroya lan Banyumas (Sekarang yang ramai Kroya, Cilacap, dan Banyumas,'' tutur Waris.

Transmigran

Dulu, kata Anton, 100% bahan sandal adalah ban bekas. Bagian alas dan selempang disambung dengan paku atau dijahit, sehingga kuat dan tahan air. Produk itu dipasarkan di luar Jawa, yaitu di lokasi transmigran.

''Karena kuat dan tahan air itulah sandal jepit kami digemari masyarakat transmigran,'' katanya.

Agar tak ketinggalan zaman, perajin memodifikasi produk mereka. Alas sandal mereka ganti busa, selempang tetap dari karet ban bekas. Bagian alas terdiri atas dua lapis yang disatukan dengan lem. Kekuatan lem terbatas, apalagi jika sandal sering terkena air.

Harga sandal biasa (bukan seragam kenthongan) di Banaran antara Rp 3.500 dan Rp 4.000/pasang, di luar Jawa antara Rp 15.000 dan Rp 2.000/pasang.

''Kata pedagang yang ambil barang ke sini, jualan sandal bandol di lokasi transmigrasi seperti jualan pisang goreng. Cepat sekali habis,'' tutur Anton.

Waris menuturkan perajin terus membuat produk yang kuat dan menarik. Belajar dari pengalaman, dengan lem biasa mudah tekelupas mereka pun mencari akal.

Lem dan alat pembuat sandal mereka ganti. Hasilnya, alas kaki buatan mereka tahan lama, terutama bila kerap kali terkena air.

Penampilan sandal buatan mereka pun lebih manis, dengan kombinasi warna pada selempang dan alas. Dulu, hanya ada warna hitam pada sandal bandol. Waris menjual sandal itu seharga Rp 10.000/pasang.

Adapun sepatu seragam kenthongan dia jual dari Rp 12.500/pasang sampai Rp 20.000/pasang. Sepatu yang lebih mahal biasanya dipakai para pemimpin grup. (Budi Hartono-86)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA