logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 24 Juli 2004 BANYUMAS
Line

Petani dan Perajin Gula Rugi Ratusan Juta

PURWOKERTO - Para petani dan perajin gula kelapa di Kabupaten Banyumas rugi ratusan juta rupiah. Sebab, pembeli yang telah meneken perjanjian kontrak melalui pasar lelang komoditas agro tak jadi membayar ribuan ton beras dan gula kelapa produk mereka.

Para petani dan perajin menjual produk melalui pasar lelang komoditas agro Barlingmascakeb pertengahan Mei 2004. Dalam transaksi terjual 250 ton beras dan 3.000 ton gula kelapa. Pembeli beras adalah pedagang dari Pasar Induk Cipinang Jakarta. Adapun pembeli gula kelapa dari Semarang.

Beras IR 64 saat transaksi dihargai Rp 2.300/kg, sedangkan gula kelapa Rp 2.500/kg. Di pasar lelang yang memakai cara forward trading, penjual dan pembeli melakukan perjanjian soal harga yang disepakati serta waktu penyerahan barang. Penyerahan barang sesuai dengan perjanjian dilakukan mulai awal Juni 2004 secara bertahap sampai seluruh permintaan terpenuhi.

Wahyu Riyono, perajin gula kelapa asal Cilongok, memenangi lelang komoditas 3.000 ton gula kepala senilai Rp 7,5 miliar. Gulanya dibeli orang Semarang. Namun kemarin dia menyatakan belum bisa menyerahkan seluruh barang sesuai dengan transaksi ke pembeli. Padahal, gula kelapa itu katanya akan dipakai untuk industri jenang di Kudus.

''Sejak memenangi lelang saya sudah mengambil gula kelapa dari para perajin di Banyumas sebagai stok agar bisa mengirim sesuai dengan perjanjian, yakni seminggu sekali. Namun saat pengiriman pertama 60 ton yang menerima bukan pembeli, melainkan broker. Akibatnya, barang itu yang saya kirim awal Juni itu sampai saat ini belum dibayar,'' katanya.

Sudah dua bulan pengiriman berikutnya tertunda. Padahal, Wahyu sudah menyiapkan stok gula cukup banyak di gudang. ''Kalau pembeli tak bisa dipercaya, yang rugi para perajin gula. Padahal, dalam pengadaan gula ribuan ton itu saya pinjam uang dari bank sebagai modal,'' kata dia.

Dia harus menanggung bunga Rp 100 juta lebih. Itu belum terhitung penyusutan gula kelapa di gudang. Jika terlalu lama disimpan, kualitas gula berkurang dan harga turun.

Ingkar Janji

Dia menuturkan bisa saja menjual gula kelapa di gudangnya ke pabrik kecap. Namun harga tak sesuai, karena hanya Rp 1.750/kg. Selain itu, kebutuhan pabrik kecap juga terbatas. ''Bila dihitung-hitung, total kerugian saya bisa ratusan juta rupiah.''

Teguh, petani asal Purwanegara, Kecamatan Purwokerto Utara, pada lelang pertengahan Mei menjual 225 ton beras IR 64 ke pedagang dari Pasar Induk Cipinang Jakarta. Kasus yang dia alami hampir mirip Wahyu. Hanya beras Teguh di pasar lelang dihargai Rp 2.300/kg, tetapi saat diserahkan ke pembeli hanya dihargai Rp 2.000/kg.

''Saya kaget. Kenapa dalam perjanjian kontrak harga beras IR 64 Rp 2.300/kg, tetapi saat dikirim akhir Mei lalu hanya dihargai Rp 2.000/kg? Jelas saya rugi. Pembeli menurunkan harga dengan alasan saat barang tiba beras asal Thailand membanjiri pasar Jakarta sehingga harga beras lokal turun,'' ujar Teguh, menirukan alasan pedagang di Pasar Cipinang.

Dia heran, kenapa pedagang itu menganggap perjanjian tersebut seperti angin lalu saja. ''Saya sudah bertemu pejabat Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi, Barlingmascakeb, Bagian Hukum untuk menyampaikan persoalan ini. Dalam pertemuan itu disimpulkan, perjanjian kontrak memang lemah sehingga jika ada yang ingkar janji sulit dituntut. Berdasar pengalaman ini saya minta perjanjian dibatalkan dan saya tak akan mengirim beras lagi ke Jakarta,'' kata dia.

Regional Manager Barlingmascakeb Restyarto Effiawan SE MM, kemarin, mengakui sejumlah petani dan perajin gula kelapa merugi. Karena, mereka belum bisa mengirim komoditas sesuai dengan perjanjian kontrak.

Dia meminta Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) memasukkan pembeli yang mempermainkan harga seenak hati dan tak mematuhi perjanjian kontrak ke dalam daftar hitam. (G23-86)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA