logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 24 Juli 2004 BANYUMAS
Line

300 Pelanggan Tak Terlayani PDAM

PURWOKERTO-Harapan sekitar 300 calon pelanggan PDAM di Perumahan Pamujan, Kelurahan Teluk, Kecamatan Purwokerto Selatan, untuk menikmati air bersih kandas. Sebab, berdasar survei PDAM Purwokerto, daerah itu tak bisa dijangkau pipa distribusi. Jika memaksakan diri melayani, PDAM akan merugi cukup besar.

Direktur PDAM Suwarsono didampingi Seksi Kehumasan Zohdi Ismail, kemarin, menyatakan lokasi perumahan itu lebih tinggi daripada ujung pipa distribusi di Jalan Lisan Pura (jalur Sultan Agung). Ketinggian lokasi itu 30 m. Padahal, saluran ujung pipa distribusi sampai ke lokasi perumahan sekitar 3 km.

''Kalaupun agar air bisa naik harus didorong dengan pompa bertenaga listrik. Air lalu ditampung di bak di atas. Biaya listrik untuk menaikkan air sangat mahal. Padahal, daerah itu termasuk pelanggan bertarif rumah tangga. Kalau memaksakan diri jelas kami rugi besar,'' ujar Warsano.

Warga Pamujan menyampaikan keinginan menikmati air PDAM secara lisan, beberapa waktu lalu. Mereka juga mengirim SMS ke Bupati Banyumas HM Aris Setiono SH SIP melalui surat kabar dan wakil masyarakat. Intinya, mereka meminta daerah tersebut dijangkau pelayanan air bersih PDAM.

Debit air satu-satunya sumur dalam yang dibuat pengembang, PT Devalindra Cipta, tahun 1999, tak mencukupi. Bahkan mesin pompa sumur itu pun rusak.

Wanto (37), warga perumahan itu, mengemukakan kini sebagian warga membuat sumur. ''Namun yang tak mampu terpaksa membeli. Kesulitan air paling terasa saat musim kemarau,'' ujarnya.

Tak Mencukupi

Warsono mengatakan, pengembang juga pernah mengajukan permohonan ke PDAM. Karena tak bisa memenuhi tuntutan itu, PDAM menyarankan pengembang menambah lagi sumur dalam di perumahan. Untuk memenuhi kebutuhan sekitar 300 pelanggan minimal membutuhkan air berdebit sekitar 5 l/detik.

''Kalau memakai tenaga diesel suaranya keras sehingga mengganggu lingkungan. Debit air dari mata air Baturraden dan Kawungcarang juga tak mencukupi. Kalaupun bisa dilayani minimal tarifnya Rp 1.000/m3. Padahal, tarif rumah tangga cuma Rp 400/m3,'' katanya.

Sementara itu, pelanggan di Karanglewas dan Purwokerto Barat mengeluh karena air keruh. Dia menuturkan air keruh akibat erosi dan rembesen dari sawah di sekitar mata air Jipang. Namun air tidak keruh terus-menerus 24 jam, tetapi hanya saat hujan.

''Kami sudah membuat bak penampung di sekitar mata air. Kami pun akan membebaskan tanah di atas mata air untuk penghijauan,'' katanya.

Adapun aliran air untuk pelanggan di Tanjung tersendat-sendat, kata dia, akibat jalur distribusi bercabang banyak. Daerah itu juga tinggi. Di daerah itu ada sekitar 200 pelanggan.

''Namun itu sudah kami atasi dengan membuat pipa paralel dari pertigaan Sawangan, khusus untuk melayani daerah tersebut,'' katanya. (G22-86)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA