| Kamis, 22 Juli 2004 | WACANA |
SURAT PEMBACATerima Kasih untuk Bupati PemalangTerima kasih kepada Bp Bupati Pemalang yang memberikan honor daerah bagi guru wiyata bakti dan pegawai tidak tetap pada tahun 2003. Suntikan dana tersebut sedikit memberikan harapan baru, bukan hanya faktor uang, tetapi eksistensi kami diakui dengan diteritkannya SK Bupati No 824/438.A/ 2003. Tahun anggaran 2004, kami juga telah menerima SK Bupati No 824/05/2004, yang di dalamnya disebutkan pencairan honor daerah (honda) terhitung mulai Januari - April 2004. Namun sampai bulan Juli 2004 belum dicairkan. Hal ini membuat kami bertanya-tanya ke mana anggaran Rp 5,2 milliar tersebut. Hal ini banyak menimbulkan spekulasi apakah dana tersebut dialokasikan ke pos lain. Harapan kami agar Bp Bupati segera mencairkannya. Sangat ironis ketika PNS yang standar gajinya sudah jelas dan cukup sejahtera, masih mendapat gaji ke-13. Sementara para wiyata bakti dan tenaga honorer hanya gigit jari. Kami tidak menuntut gaji ke-13, hanya honor segera dicairkan. Bila dipenuhi konsekuensi logisnya kewajiban kami akan dilaksanakan baik dan profesional. Selama ini peringkat prestasi pendidikan di Pemalang jauh tertinggal dari daerah lain di Jateng. Dengan pencairan honor tersebut akan memberikan energi baru dan loyalitas tenaga kependidikan. Dan langkah Bupati Pemalang memberikan honor daerah diharapkan diikuti daerah lain. Syaiful Aziz Randudongkal Rt 35/Rw 4 Pemalang *** Uang Insentif GTT/PTT di Depdiknas Kebumen Secara serentak Guru Tidak Tetap (GTT) dan Pegawai Tidak Tetap (PTT) dari SD, SMP, SMU, SMK baik negeri maupun swasta se-Kabupaten Kebumen berkumpul di kantor Depdiknas untuk mendapatkan insentif yang sudah ditunggu-tunggu. Saya kalau boleh dikatakan mewakili para rekan untuk menyampaikan isi hati. Pertama, saya ucapkan terima kasih atas perhatian Pemkab Kebumen berupa pemberian insentif tersebut. Insentif ini sedikit dapat meringankan "penderitaan" kami dan semoga ke depan Pemda (Depdiknas) memberi "lebih". Kedua, saya akan lebih senang lagi jika insentif dibagikan secara kolektif pada masing-masing sekolah, sehingga tidak perlu antre dan berdesak-desakan. Saya yakin Depdiknas bersikap demokratis sehingga tidak keberatan dengan usul tersebut. Saya senang mendapat predikat "pahlawan" walau tanpa tanda jasa, tetapi lebih senang jika Pemerintah (Depdiknas) makin memperhatikan kesejahteraannya. Bukan sekadar slogan. Nurjaman SPd Pejagatan Rt 4/Rw 3 Kebumen *** Soal Truk Melorot Minggu lalu kita dikejutkan berita tewasnya 17 orang di Desa Jambu Ambarawa akibat truk tronton muatan semen yang melorot dari tanjakan karena tak kuat menahan beban. Dari berita tersebut, penyebab utamanya muatan truk yang melebihi daya angkut (muatan 750 zak semen setara 30 ton). Masalah muatan berlebihan sebenarnya sudah berlangsung lama. Hanya tidak ada yang peduli. Setelah timbul korban jiwa, baru kebakaran jenggot dan sibuk mencari kambing hitam. Kalau dicermati, tidak hanya truk semen yang muatannya melebihi ketentuan. Truk-truk tronton muatan pasir dari Muntilan lebih gila lagi. Saya iseng-iseng pernah mengukur volume pasir yang dimuat di truk tronton. Truk panjangnya 6,7 m, lebar 2,4 m dan tinggi 1,7 m sehingga volume pasir 27,3 meter kubik. Kalau berat jenis pasir 1,8 maka berat pasir mencapai 49 ton (bandingkan dengan 750 zak semen yang ''hanya'' 30 ton). Jika ditambah berat truk kosong 7 ton, maka berat total mencapai 56 ton. Beban seberat itu ditumpu 3 sumbu roda (gandar), sehingga setiap sumbu menahan beban 18,6 ton. Padahal jalan arteri primer didisain untuk muatan sumbu terberat (MST) 10 ton. Jadi jangan heran kalau ruas jalan dari Magelang ke Semarang cepat rusak. Kalau diamati, lajur ke arah Semarang mengalami kerusakan lebih parah dibanding ke arah Magelang. Ini membuktikan puluhan bahkan ratusan truk pasir yang setiap hari melalui jalan tersebut memberi andil besar terhadap kerusakan jalan. Mungkin diperlukan puluhan miliar rupiah untuk memperbaiki kerusakan itu. Yang pasti semua itu duit Pemerintah yang berarti duit rakyat juga. Artinya rakyat di pucuk gunung yang mungkin tak pernah menikmati mulusnya jalan juga harus ikut menanggung beban. Saya hanya bisa berdoa semoga para pengambil keputusan dapat melihat fenomena ini sehingga lebih arif menentukan kebijakan. Jangan sampai demi segelintir pengusaha pasir/semen harus mengorbankan kepentingan (bahkan nyawa) rakyat banyak. Ir D Wijayatno Jl Murbei Barat 9, Semarang *** Anak Saya Derita Hydrochephalus Saya Siti Soleha dan ibu bernama Turiyah yang sudah menjanda. Kami hidup berdua karena suami meninggal tahun 2002 akibat kecelakaan. Meski janda saya mengurus anak sebaik-baiknya. Kehidupan kami amat sulit, rumah tidak punya dan anak saya kini sakit yaitu sejak lahir kepalanya membesar. Siti Nurlaela, anak saya menurut dokter menderita penyakit hydrochephalus yang rnemerlukan perawatan serius. Dia sehari-hari sudah tidak mampu lagi berdiri atau duduk bahkan selalu menangis serta merintih kesakitan. Sering kejang-kejang dan pingsan. Menurut dokter, dia harus dioperasi. Ibu/Bapak pembaca, saya hidup menjanda bekerja tukang sapu (tenaga kebersihan) di sebuah sekolah dan sedikit berjualan kue. Walau penghasilan minim, saya bersyukur bisa menabung meski kecil sekali. Semua ini hanya untuk biaya operasi anak saya sebesar Rp 15 juta dan belum lagi biaya berobat jalan, biaya obat dan transpor. Bila Ibu/Bapak berkenan, sekecil apa pun bantuan dan uluran kasih para donatur akan sangat berharga bagi kami mohon disalurkan melalui Bank Mandiri a.n Siti Soleha rekening no 117-00-0410671-2 Siti Soleha Perumnas Kembangjati I Blok F RT 8/Rw 3, Purwokerto *** Tanggapan BCA Sehubungan keluhan dan masukan Bapak Iskandar Z di Surat Pembaca 12 Juli 2004, kami mengucapkan terima kasih atas perhatiannya kepada PT Bank Central Asia Tbk. Kami mohon maaf atas kekurangnyamanan saat Bapak bertransaksi di cabang kami beberapa waktu lalu. Masukan Bapak akan menjadi perhatian kami guna meningkatkan pelayanan kepada nasabah. Namun demikian, kami sampaikan bahwa seluruh nasabah di wilayah Semarang dan sekitarnya dapat melakukan setoran tunai melalui beberapa cabang terdekat. Antara lain KCU Semarang, KCP Telogorejo, KCP MT Haryono, KCP Majapahit, KCP Siliwangi, KCP Industri, KCP Bangkong, KCP Suari dan KCP Kanjengan. Sedang untuk transaksi seperti penarikan tunai, transfer dan lainnya dapat memanfaatkan mesin ATM BCA atau memanfaatkan fasilitas melalui mobile banking atau internet banking tanpa harus mengunjungi counter. Informasi lengkap dapat menghubungi customer service officer di cabang terdekat atau mengunjungi website www.klikbca.com. Dwi Narini Manager Biro Humas |