| Kamis, 22 Juli 2004 | NASIONAL |
Film ''Imelda'' Diserbu
MANILA - Orang-orang Filipina menyerbu gedung bioskop-gedung bioskop Rabu kemarin, untuk menyaksikan sebuah film dokumenter tentang Imelda Marcos, mantan Ibu Negara negeri tersebut. Imelda dengan sia-sia telah mencoba menghalangi pemutaran film itu. Upayanya tersebut justru menjadi publikasi besar gratis bagi film berjudul ''Imelda'', yang masa putarnya 103 menit. Karcis film itu laris manis. Sejumlah bioskop utama di kota Manila mulai memutar film tersebut Rabu kemarin, satu pekan setelah pengadilan menolak gugatan Imelda bagi pelarangan pemutarannya di muka umum. Para penggemar film tampak sangat ingin menyaksikan film dokumenter tentang Imelda (75) yang kehidupannya flamboyan itu. Mantan Ibu Negara tersebut dijuluki ''Kupu-kupu Besi'', karena gaya hidupnya yang mewah selama 20 tahun mendampingi sang suami, Ferdinand Marcos, sebagai presiden. ''Ada beberapa sisi karakternya yang hingga kini masih dikagumi orang,'' kata Linda Lapid. Dia mengaku masih ingat Filipina pada era Marcos, dan aksi kekuatan rakyat (''People Power'') yang menumbangkan pemerintahan Marcos pada 1986. Film dokumenter produksi bersama Filipina-Amerika itu disutradari oleh Ramona Diaz. Para kritikus film Barat memuji film tersebut, yang memenangi hadiah ''sinematografi terbaik'' pada Festival Film Sundance di AS. Merasa Diperolok Imelda merasa film itu memperolok-oloknya. Dia menuding Diaz hanya ingin memanfaatkan pembuatan film tersebut untuk studi akademik. ''Dalam film itu aku digambarkan sebagai wanita yang sembrono, asusila, royal luar biasa di tengah-tengah rakyat yang miskin. Saya dibuat sedemikian rupa, sehingga tampak bagaikan wanita genit murahan, genit pada semua pria di dunia,'' katanya, saat tampil di pengadilan, bulan lalu. Sekalipun dia takut citranya bakal sangat buruk, rakyat Filipina dari berbagai kalangan usia tampaknya ingin sekali menyaksikan film tersebut dengan pikiran polos. ''Dia kan bagian dari sejarah negeri ini, bagian dari budaya kami, dan juga bagian dari cara Filipina berubah menjadi seperti sekarang,'' kilah Blake Sarion, seorang mahasiswa. Film itu mengisahkan perjalanan hidup Imelda, mulai dari seorang ratu kecantikan Filipina hingga menjadi ibu negara. Pesta-pesta nyanyi dan 1.220 pasang sepatu mahal koleksinya, sungguh menjadi legenda. Sepatu-sepatu itu ditemukan orang di salah satu ruang Istana Malacang, setelah keluarga Marcos dipaksa turun dari kekuasaan dan kemudian hidup dalam pengasingan di Hawaii, menyusul gerakan People Power 1986. (rtr-ed-30) | ||||