logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 22 Juli 2004 NASIONAL
Line

Pengalaman Eko PC

Tidak Mudah Jadi Penari Latar Madonna


Eko PC - SM/dok

KABAR tentang para penari Madonna yang protes, membuat koreografer asal Solo ini jadi teringat pengalaman masa lalunya. Ya, teringat dengan pengalamannya selepas tiga bulan dia meraih gelar master of art dari UCLA Los Angeles, Amerika Serikat.

Eko ''PC'' Supriyanto (nama koreografer tersebut) memang pernah terlibat dengan Madonna, ketika diva musik pop dunia itu akan menggelar tur bertajuk ''Drown World Tour'' di Italia, Prancis, Jerman, Inggris, dan berbagai negara lainnya.

''Delapan bulan saya terlibat dengan penyanyi besar tersebut,'' tandasnya, Rabu kemarin.

Lalu, koreografer yang alumnus dan sekarang menjadi dosen Jurusan Tari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta itu menceritakan pengalamannya ketika menjadi penari latar dari penyanyi yang pernah menjadi istri aktor Sean Penn tersebut.

''Bukanlah mudah untuk menjadi penari latar Madonna. Bayangkan, untuk latihan saja kami (dia dan penari yang lain) harus melakukannya pukul 08.00 hingga pukul 22.00. Hingga rasanya tenaga kami benar-benar seperti terforsir,'' jelasnya seperti hendak membuka pengalamannya beberapa tahun lalu.

Karena itu, meskipun situasi dan kondisinya mungkin berbeda, termasuk mungkin manajemennya, dia bisa memaklumi mengapa para penari Madonna sekarang protes ketika merasa imbalannya tidak setimpal.

''Dan sebenarnya kami pun dulu pernah melakukan hal yang sama. Ketika merasakan apa yang telah kami perbuat tidak sepadan dengan apa yang kami terima. Bahkan, ketika kemudian kami melakukan live performance, kami juga tidak mendapatkan royalti,'' jelasnya, kemudian.

Mogok Latihan

Koreografer yang hingga saat ini masih tetap melajang itu kemudian teringat ketika bersama dengan para penari lain pernah tidak mau latihan dan hanya berkumpul di depan Sony Studio, tempat yang sering digunakan untuk latihan para dancer.

''Saat itu kami sengaja tidak mau latihan, dan hanya berkumpul di depan studio. Itu kami lakukan setelah surat protes yang kami kirimkan ke manajemen tidak ditanggapi.''

Sebelumnya, kata dia, para penari memang sempat melayangkan protes dengan mengirimkan surat kepada pihak manajemen Madonna. Isi suratnya, seluruh penari keberatan kalau hanya dibayar 750 dolar AS per minggu. Karena tidak mendapat tanggapan, para penari kemudian mogok latihan.

''Namun setelah berdialog, bayaran kami dinaikkan menjadi 1.700 dolar. Sementara untuk royalti, kami dibayar 2.500 dolar setiap kali live performance,'' tambahnya.

Demikianlah, soal bayaran memang pernah menjadi salah satu hal yang mengganjal di hati para penari saat itu. Hingga kemudian sampai membuat mereka harus melayangkan surat protes dan bahkan mogok latihan.

Namun, kalau di luar itu, sebenarnya tidak menjadi persoalan. Dia tidak mengalami seperti yang dirasakan penari sekarang, yang merasa sang bintang tidak bisa bergaul dengan para penari, dan kondisi kerja pun kurang nyaman.

''Kalau saya justru tidak seperti itu. Madonna justru banyak bergaul dengan para penari. Terutama dia sering mengajak ngobrol tentang persiapan konser,'' jelasnya.

Karena itu, dia pun agak sedikit kaget, ketika mendengar kabar tentang keluhan penari mengenai komunikasi dan kondisi kerja tersebut. (Wisnu Kisawa-33t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA