| Kamis, 22 Juli 2004 | NASIONAL |
Human Rights Prihatinkan TKIKUALA LUMPUR - Ribuan tenaga kerja wanita (TKI) Indonesia di Malaysia menjadi korban penganiayaan fisik dan mental, pelanggaran hak-hak manusia yang paling mendasar, dan kurang perlindungan, tuding sebuah kelompok pembela HAM terkemuka, Rabu kemarin. Human Rights Watch, kelompok HAM yang berbasis di Amerika, mengatakan banyak TKI yang jadi pembantu rumah tangga diperkosa atau disiksa, bekerja sampai 18 jam sehari, dan tujuh hari sepekan. Yang menyedihkan, upah kecil mereka yang kurang dari 0,25 dolar AS (sekitar Rp 2.000) per jam itu pun terkadang tidak dibayarkan oleh para majikan kejam Malaysia. Nisha Varia, peneliti pada divisi hak perempuan kelompok itu, mendesak Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Malaysia agar mengubah UU Ketenagakerjaan masing-masing, guna melindungi pekerja migran seperti itu. ''Kami terutama kecewa pada Malaysia, karena ada masalah sistem. Misalnya, pembantu rumah tangga tidak mendapatkan perlindungan hukum tertentu. Dan ini merupakan persoalan sangat memprihatinkan,'' katanya, dalam konferensi pers di Kuala Lumpur. Tahun lalu, 18.000 pembantu rumah tangga asal Indonesia terpaksa meninggalkan para majikan mereka di Malaysia, karena mereka sudah tidak kuat menanggung beban derita, katanya. Malaysia yang kekurangan tenaga kerja kasar, mempekerjakan sekitar 240.000 pembantu rumah tangga, lebih dari 90 persen di antaranya berasal dari Indonesia, kata Human Rights Watch. Sebagian kecil lainnya berasal dari Filipina, Kamboja, dan Sri Lanka. Kelompok HAM tersebut mendapatkan temuan dan perkiraan angka-angka tersebut lewat wawancara dengan 115 TKI pembantu rumah tangga, pejabat, dan pihak-pihak lain di Indonesia serta Malaysia. Namun, seorang menteri Malaysia dengan enaknya menyatakan, melakukan perubahan suatu UU sangatlah mustahil. ''Tidak ada negara yang punya UU seperti itu. Pembantu rumah tangga bersifat sangat pribadi, dan mereka bagian dari keluarga majikan. UU yang berlaku telah memadai, jika ada laporan mengenai penyiksaan,'' kata Mendagri Malaysia Azmi Khalid. ''Pada kenyataannya, tidak sampai satu persen pembantu rumah tangga menjadi korban penyiksaan fisik para majikan,'' kilahnya. Malaysia mengalami kekurangan pekerja terampil dan tidak terampil, terutama di tengah bursa tenaga kerja yang bersaing ketat. Angka pengangguran turun dari 3,9 persen pada 2002 menjadi 3,5 persen 2003.(rtr-ben-30) |