| Kamis, 22 Juli 2004 | NASIONAL |
Status Kapolda Sulteng Dibahas
JAKARTA - Tujuh perwira tinggi Polri Rabu kemarin resmi dimutasi. Mereka adalah Wakapolri dan enam kapolda, yakni Kapolda Sumatera Utara, Metro Jaya, Jawa Tengah, Jatim, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Utara. Irjen Edi Sunarno yang semula menjabat Kapolda Sumatera Utara dimutasikan ke Mapolda Jawa Timur, sedangkan Kapolda Jawa Timur Irjen Firman Gani menjabat sebagai Kapolda Metro Jaya. Dia menggantikan Irjen Makbul Padmanegara. Adapun Makbul menjabat Kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional (BNN), menggantikan Komjen Togar Sianipar yang memasuki masa pensiun. Kapolda Jawa Tengah, Irjen Irsmerda Lebang digantikan oleh Irjen Khairul Rasyid yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Kepada Badan Pembinaan dan Keamanan Polri. Jabatan Kapolda Sumut kini ditempati Brigjen Iwan Panjiwinata yang sebelumnya sebagai Kapolda Kalimantan Barat. Kapolda Kalimantan Barat ditempati Brigjen Nanan Sukarna yang sebelumnya adalah Wakapolda Metro Jaya. Kapolda Sulawesi Utara Brigjen John Lalo digantikan oleh Brigjen Pol Bambang Sutiarso. Selain enam kapolda yang dimutasi, Kapolri Jenderal Da'i Bachtiar melantik Komjen Adang Dorodjatun sebagai Wakil Kepala Polri menggantikan Komjen Kadaryanto. Adang sebelumnya adalah kepala Badan Pembinaan dan Keamanan Polri. Keseluruhan mutasi berdasarkan telegram rahasia Kapolri Nomor 640/VII/2004. Soal banyaknya tuntutan agar Kapolda Sulteng juga diganti, Kapolri mengatakan, hal itu masih dalam pembahasan. ''Kami masih mengevaluasi apakah perlu Kapolda Sulteng diganti, itu masih menjadi pertimbangan. Yang pasti, peristiwa penembakan di Palu disinyalir dilakukan oleh orang-orang tertentu yang tidak menginginkan situasi damai di wilayah tersebut,'' katanya. Menurutnya, pengembangan penyelidikan kasus penembakan di Palu masih terus dilaksanakan dengan memaksimalkan tim khusus yang terdiri atas satuan identifikasi, Puslabfor, dan anggota serse di lapangan. Dia menyebutkan, untuk mendukung penyelesaian kasus itu, pimpinan Polri telah mengirim dukungan anggota dari Mabes Polri yang diharapkan bisa bergabung dan memperlancar penyelidikan di lapangan. Upaya lain yang dilakukan jajaran Polda Sulteng yakni berkoordinasi dengan warga termasuk tokoh masyarakat seraya mengimbau agar terus waspada dan tidak mudah terpancing. Dia mengemukakan, pelaku penembakan Pendeta Susianti itu jelas orang yang menginginkan situasi keruh dan tidak menghendaki perdamaian. Mereka sengaja memancing kondisi agar wilayah itu kacau sehingga target mereka terpenuhi. Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, kata dia, memang tidak mudah. Selain dibutuhkan waktu dan tenaga juga kebersamaan dan dukungan warga setempat. Dari kasus kriminal menonjol yang terjadi di wilayah Palu seperti penembakan Jaksa Ferry Silalahi, termasuk aksi yang diciptakan oleh kelompok tidak bertanggung jawab, semuanya menginginkan situasi damai. Bahkan tidak menutup kemungkinan mereka berupaya menambah kekacauan dengan terus menggelar tindakan meresahkan. (bu-83) |