logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 22 Juli 2004 NASIONAL
Line

Kasus Minamata Diselidiki

  • PT Newmont Tolak sebagai Pencemar Lingkungan

KORBAN MINAMATA: Salah satu gejala penyakit minamata, muncul benjolan dalam banyak varian pada tubuh penderita. Para penderita korban itu diperiksa di Balai Laboratorium Kesehatan, Depkes RI, Jakarta, kemarin.(55t)

JAKARTA-Meninggalnya bayi Andini Lenzun yang disebut-sebut disebabkan oleh pencemaran Teluk Buyat, berbuntut panjang. Sebab, PT Newmont Minahasa Raya (PT NMR) menolak tuduhan operasi tambangnya di Ratatotok, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara telah mencemari Teluk Buyat. Untuk itu, mereka berencana menggugat balik pihak yang mengadukan ke Mabes Polri.

Kasus itu mencuat ke permukaan, ketika Senin lalu (19/7), Direktur Yayasan Kelola Sulawesi Utara Rignolda Djamaludin mengungkapkan, gejala penyakit minamata ditemukan berdasarkan hasil penelitian sejumlah dokter dari Universitas Sam Ratulangi pada Juni lalu.

Gejala penyakit itu, seperti diungkapkan peneliti dr Jein Pangemanan, diawali gatal-gatal dan kejang pada tubuh penderita, kemudian muncul benjolan.

Benjolan muncul dalam banyak varian pada sejumlah penderita, yakni di tangan, kaki, tengkuk, pantat, kepala, atau payudara. Rata-rata penderita mengalami gejala tersebut.

Pencemaran logam berat itu diduga telah berakibat pada kematian Andini Lenzun, bayi berusia lima bulan, pada awal Juli lalu setelah ia menderita gatal, kejang, dan muncul benjolan di tubuhnya.

Rignolda menduga kuat kematian Andini terkait dengan pencemaran logam berat, karena indikasi penyakit yang diderita oleh bayi tersebut mirip dengan gejala penyakit minamata. Bahkan sekujur tubuh Andini tampak berkudis.

Berdasarkan pernyataan itu, sejumlah LSM mengadukan PT Newmont ke Mabes Polri, dengan tuduhan melakukan pencemaran di Teluk Buyat.

Manajer Proyek PT Newmont Bill Long menegaskan, "Tuduhan tersebut telah menodai nama baik karyawan dan perusahaan kami. Penyalahgunaan kepercayaan publik seraya mengorbankan penderitaan orang-orang yang kurang beruntung untuk mencapai agenda pribadi merupakan tindakan yang tidak bisa diterima.''

Pihaknya tidak bisa memaafkan pernyataan tersebut dan tengah mempertimbangkan langkah-langkah hukum.

Menurut dia, apa yang dilaporkan tersebut tidak benar. ''Tidak benar kalau operasi kami di Teluk Buyat menyebabkan masalah kesehatan di kalangan penduduk setempat.''

Operasi tambang miliknya secara penuh mematuhi semua standar lingkungan Indonesia maupun Amerika Serikat dan berkomitmen untuk melindungi lingkungan dan melakukan pengembangan masyarakat. Ia menambahkan, operasi PT tidak mengakibatkan gangguan kesehatan di Buyat.

''Kami tidak menggunakan merkuri dalam operasinya. Memang benar perusahaan menghasilkan merkuri sebagai produk ikutan. Namun merkuri tersebut dikumpulkan dan disimpan secara aman di fasilitas pabrik sesuai dengan ketentuan tentang penanganan bahan beracun berbahaya.''

Pihaknya bertanggung jawab penuh terhadap keamanan merkuri ini. ''Fakta yang benar adalah ada kegiatan yang sama sekali tidak terkait dengan kami, yakni penambangan emas tradisional tanpa izin yang menggunakan merkuri untuk mengolah emas.''

Selama proses ini, para penambang tanpa izin melepaskan merkuri ke sungai yang akhirnya mencapai kawasan Teluk Buyat. Namun menurut penelitian ilmiah, merkuri yang dilepas ke daerah tangkapan air belum didapati pada rantai makanan.

Turunkan Tim

Dalam waktu dekat pihak Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral akan menurunkan tim gabungan bersama Depkes untuk mengkaji dan meneliti kasus penyakit minamata yang terjadi di wilayah penambangan PT Newmont.

Pengkajian itu mencakup operasi pertambangan yang dilakukan perusahaan itu betul-betul menyebabkan timbulnya penyakit tersebut pada masyarat sekitar. Pasalnya sebelumnya telah dilakukan analisa amdal yang menyatakan penambangan sudah sesuai amdal.

"Sekarang yang terpenting kita lihat dulu apa betul korban sebagai dampak keberadaan perusahaan itu. Kita minta klarifikasi, saya sudah instruksikan Dirjen saya apakah itu hasil tailing," kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro.

Saat ditanya kenapa pemerintah bereaksi setelah adanya laporan ke Mabes Polri atas kasus tersebut, Purnomo mengatakan pada dasarnya pemerintah akan melakukan kajian berdasarkan laporan yang masuk.

Sementara itu Dirjen Geologi dan Sumber Daya Mineral Simon Sembiring juga mengatakan pembuangan tailing PT Newmont cukup aman. Namun dia mengakui pada 2002 memang ada laporan tentang penyakit kulit di kawasan itu.

Diperoleh keterangan, penderita minamata yang lain diperiksa di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM). Sebelumnya korban diambil darahnya untuk dites lebih lanjut di Fakultas MIPA UI Depok.

Hingga sore kemarin, empat korban masih diperiksa. Keempat korban yakni Juhria, ibu dari Srifika Modeong (1 tahun 9 bulan), Masna dan Rasit Rahmat.

Juhria mengaku diperiksa secara menyeluruh mulai dari kulit, kepala, benjolan-benjolan dan bengkak-bengkak yang diderita. Srifika diperiksa di poli anak. Telinga Srifika lecet-lecet dan berwarna merah demikian pula ketiaknya. Penyakit tersebut diduga akibat mengkonsumsi air yang telah tercemar libah.

Tim terpadu yang terdiri dari Polri, Kementerian Negara Lingkungan Hidup, serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral akan bertolak ke Minahasa 22 Juli.

''Tim akan mencari bukti pencemaran lingkungan yang diduga dilakukan PT Newmont,'' kata Direktur V Tindak Pidana Tertentu Badan Reserse dan Kriminal (Bareskrim) Mabes Polri Brigjen Pol Suharto.(dtc-33)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA