logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 22 Juli 2004 SEMARANG
Line

Kelompok Udang Desa Serangan Maju Lomba Tingkat Nasional

SETELAH sukses meraih juara pertama lomba Intensifikasi Budidaya Udang (Inbudang) tingkat Jateng kelompok petani tambak ''Udang Raya'' di Desa Serangan, Bonang, Demak, kembali mengemban beban cukup berat karena maju ke tingkat nasional di lomba yang sama, awal Oktober 2004.

Kepala Kantor Kelautan dan Perikanan Demak Ir Yusuf Aidy dan jajarannya seringkali memberikan pengarahan di sela-sela panen raya delapan kuintal udang windu (Penaeus monodon) dan 1,5 ton ikan bandeng di Desa Serangan, Bonang.

''Kelompok Udang Raya Desa Serangan mengikuti lomba Inbudang tingkat nasional bulan Oktober. Para pesaingnya dari petambak udang se-Indonesia,'' kata Ir Yusuf Aidy didampingi Ir Lalu M Sapriyadi dari Balai Pembenihan dan Budidaya Ikan Jateng.

Panen udang windu dan ikan bandeng di Desa Serangan, itu cukup berhasil dibandingkan sebelumnya. Sebab, pada umur panen relatif muda, yakni 3,5 bulan ternyata bisa menghasilkan ukuran yang cukup besar.

''Ukuran udang windu di Desa Serangan, ini sangat istimewa, yaitu 15-20 (1 kilo isi 15-20 ekor udang). Padahal umumnya, umur panen udang 3,5 bulan memiliki ukuarn 50-60 (1 kilo isi 50-60 ekor udang),'' ujar Lalu M Sapriyadi.

Selain itu, kegagalan panen udang akibat terserang penyakit/virus pada umur 1,5 bulan-2 bulan, dapat ditekan. Caranya, jika virus menyerang pada usia 1,5 bulan, maka sebelum usia itu petambak berusaha mengamankan ke petak lain yang lebih aman.

Tarib (61), koordinator pengelola tambak Desa Serangan, Bonang menuturkan, hasil panen ikan bandeng itu akan dipasarkan ke Semarang.

Sebab, di kota itu harganya bisa mencapai Rp 8.000/kg-Rp 10.000/kg. Tergantung pada besar-kecilnya ikan bandeng.

''Untuk harga udang windu berkisar Rp 70.000-Rp 75.000/ekor udang. Harga udang itu tergantung pada ukuran,'' ungkap Tarib.

Tambak yang dikelolanya saat ini mencapai 100 hektare. Namun tambak yang berhasil dipanen ada sekitar enam hektare. Pemilik tambak itu adalah H Su'udi, pengusaha yang berdomisili di Surabaya. Masing-masing tambak, diisi benur udang windu dan bandeng.

''Selama dalam perawatan, kami beri pakan alami yaitu menggunakan pupuk superfosfat SP 36. Setiap hektare diberi 1,5 kilo pupuk, bahkan pernah diberi 3 kali pupuk fosfat SP 36 dalam satu musim,'' ujar Tarib.

Tarib menambahkan, musim panen tambak itu biasanya terjadi 3 bulan sekali. Karena saat tebar benur tidak serempak, maka saat panen ada yang berumur tiga bulan, hingga tiga bulan lebih 10 hari, bahkan bisa lebih.

Keberhasilan pembudidayaan udang tersebut, juga akibat perawatan tambahnya yang cukup baik. Di antaranya dilakukan dengan mengangkat lumpur ke permukaan tambak. Setelah itu dilakukan pengeringan dan dijemur hingga bersih.

Adapun pangsa pasar hasil panenan mereka, tergantung pada harga pasaran di beberapa kota. ''Terkadang, jika harga jual udang di Surabaya bagus, maka dilempar ke sana. Namun jika harga jual bandeng di Semarang yang bagus, maka ya kami pasarkan ke Semarang.'' (Arwan Pursidi-84)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA