| Kamis, 22 Juli 2004 | SEMARANG |
Jateng Tertutup bagi Beras Impor
JAMBU- Selama ini Jateng termasuk daerah penghasil beras yang cukup besar. Rata-rata menghasilkan 8,4 juta ton/tahun gabah kering giling (GKG). Dengan demikian, bila diasumsikan rata-rata setiap orang mengonsumsi beras 113,8 kg/tahun, maka terjadi surplus 700.000 ton beras setiap tahun. Penegasan itu disampaikan Gubernur H Mardiyanto ketika melakukan panen padi sonic bloom di Desa/Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang, kemarin. ''Saya sudah meminta Pemerintah Pusat agar tidak mengirim beras impor ke Jateng dalam satu bulan sebelum masa panen dan dua bulan setelah masa panen. Sebab, selama ini di Jateng terjadi surplus beras,'' ungkap Mardiyanto. Hadir dalam kegiatan itu, Bupati Semarang H Bambang Guritno SE MM, Kepala Dinas Pertanian Ir Sukarno, Kepala Dinas Perkebunan Ir Siswanto, muspida dan muspika setempat. Dalam kesempatan itu, Gubernur bersama Bambang Guritno melakukan panen perdana padi sonic bloom pada areal 50 hektare. Sebelumnya, Gubernur dan rombongan memanen kopi robusta di Dusun Wonokerto, Kecamatan Jambu pada lahan 10,14 hektare. Gubernur mengungkapkan, jika stok beras petani masih berlimpah, Dolog diminta membeli beras dari petani sehingga harga beras menjadi stabil dan menguntungkan petani. ''Pemprov selama ini selalu mengupayakan kesejahteraan petani, termasuk dengan program bantuan sonic bloom ini,'' ujarnya. Dia mengemukakan, program sonic bloom merupakan kebijakan Pemprov untuk meningkatkan kesejahteraan petani yang digulirkan pada 2001 lalu. Setiap satu hektare lahan, Pemprov memberikan subsidi Rp 1,2 juta. Hanya bantuan itu tidak diberikan berupa uang tetapi dalam bentuk subsidi teknologi. ''Saya berharap, tahun 2005 merupakan masa kemandirian bagi petani, khususnya petani empon-empon, tebu, dan jahe.'' Kepala Dinas Pertanian Ir Sukarno mengatakan, dengan penerapan teknologi sonic bloom terjadi kenaikan hasil panen rata-rata 22,5% per hektare. Kalau memakai teknologi sonic bloom hasil panen 8,59 ton/ha GKG, tanpa teknologi itu hanya 6,86 ton/ha. H Bambang Guritno mengemukakan, wilayahnya merupakan daerah yang berpotensi sebagai penghasil beras. Dari 31.000 hektare lahan tanaman padi menghasilkan 168.000 ton GKG, sedangkan tanaman kopi luas areal 2.229 ha mampu memproduksi 1.222,67 ton. ''Kebutuhan beras di Kabupaten Semarang adalah 92.974 ton sehingga masih surplus 114 ton beras,'' tuturnya. Dari hasil panen itu, terjadi kenaikan pendapatan petani Rp 1,9 juta/ha. Kondisi ini jelas menguntungkan petani. (D14-91j) |