| Kamis, 22 Juli 2004 | SEMARANG |
Dari Ospek Turunlah ke MOSANEH memang, sejumlah kegiatan bermodus perpeloncoan mewarnai Masa Orientasi Siswa (MOS), justru ketika pekik penolakan terhadap praktik itu riuh terdengar. Di kampus, yang menjadi tanah kelahiran acara serupa yang bernama Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (Ospek), perpeloncoan sudah menjadi kebijakan yang tidak populer. Bahkan menuai kecaman. Sejumlah universitas telah mengubah, atau minimal memperbarui model penyambutan mahasiswa barunya menjadi lebih ''manusiawi''. Undip, misalnya, telah menghapus model-model perpeloncoan itu sejak seorang mahasiswanya menjemput ajal seusai mengikuti acara semacam itu, beberapa tahun silam. Di tempat lain, acara penyambutan mahasiswa baru diperhalus, dengan meminimalkan penggojlokan mahasiswa. ''Saya sungguh-sungguh menyesalkan adanya praktik serupa perpeloncoan di MOS. Di kampus, praktik semacam itu sudah berkurang secara signifikan. Tapi mengapa, justru di sekolah adik-adik kita menumbukannya kembali?'' sesal Handoyo Prihatanto, mantan Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Undip. Reinkarnasi Ospek Sungguh sebuah ironi ketika MOS seperti menjelma sebagai reinkarnasi perpeloncoan di kampus. Lihat saja, atribut yang dipakai peserta MOS, sama dan sebangun dengan ''pesakitan'' Ospek. Misalnya, tas dari karung goni atau kantong gandum, topi ala pesulap dari besek atau kertas koran, dan kalung identitas di leher -kadang-kadang dengan nama diri yang ''neko-neko'', serta rambut berkucir dengan pita warna-warni. Waktu pelaksanaan -dalam bahasa generasi MTV- juga terasa ''Ospek abis''. Sebagian besar sekolah menyelenggarakan MOS mulai pukul 6.30 dan berakhir pada pukul 13.00 lebih. Malah, ada sekolah favorit yang memulai MOS-nya pada pukul 6.00 . Menurut Handoyo, praktik perpeloncoan tumbuh dari romantisme masa lalu, ketika senior merasa lebih berkuasa ketimbang yunior. ''Kakak kelas lebih hebat dari anak baru, sehingga mereka boleh melakukan apa saja.'' Gerakan ini tumbuh subur, karena sepertinya para guru mendiamkan saja. Pernyesalan serupa juga disampaikan Abdul Rohim, mantan aktivis pers mahasiswa yang kini menjadi guru di SMP Nasima Semarang. Menurut dia, MOS semestinya menjadi sarana pengenalan sekolah dan lingkungan pendidikan bagi siswa. Bukannya sebaliknya, menjadi ajang perpeloncoan kakak-kakak buat adik-adik kelasnya. Kalaupun ada tugas-tugas, menurut Rohim, semestinya berkontribusi positif terhadap perkembangan ranah pengetahuan (kognitif), sikap (afektif), maupun tindakan (psikomotorik) siswa. Ia mencontohkan tugas mengarang atau merangkum aktivitas MOS seharian sebagai tugas yang ''ramah'' dan konstruktif. ''Sebagai selingan, bolehlah peserta MOS 'dihukum' menyanyi atau berjoget. Dengan begitu, MOS kan terasa lebih fun.'' Diah Pratiwi, mantan Ketua BEM Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unnes juga mengiyakan kemunculan nuansa Ospek dalam MOS. Menurutnya, sepanjang proporsional, hal itu tidak patut dikhawatirkan. ''Kalau diterapkan pada jenjang SMA, tak apalah. Kalau di SMP, sebaiknya jangan. Lagipula, saya lihat, para peserta MOS cukup menikmati tugas-tugas kreatif itu.'' (Achiar M Permana-89) |