logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 22 Juli 2004 SEMARANG
Line

Lembar Kesengsaraan Siswa

BANYAK siswa berseloroh, menyebut LKS sebagai lembar kesengsaraan siswa. Semestinya, LKS yang sangat populer di kalangan siswa pendidikan dasar dan menengah merupakan kepanjangan lembar kerja siswa. LKS digunakan dalam proses belajar-mengajar sebagai tugas mandiri atau dalam bimbingan guru.

Ada beberapa hal, mengapa siswa dilanda kesengsaraan menghadapi LKS. Pertama, LKS didistribusikan hampir setiap guru mata pelajaran dengan harga bervariasi. Kedua, LKS didistorsikan sebagai bahan ajar atau rujukan pembelajaran. Ketiga, bila dibuat tim musyawarah guru mata pelajaran (MGMP), LKS berkemungkinan menjadi rujukan saat tes bersama, sehingga siswa yang tak memanfaatkannya mengalami kesulitan mengerjakan evaluasi itu.

Berdampingan dengan LKS, beredar pula di ruang kelas buku-buku pelajaran, yang dicetak dalam satu semester, dan pada semester berikutnya siswa kembali membelinya. Telah berkembang pula suatu tradisi, siswa dipersuasi untuk membeli buku dari guru yang bersangkutan. Pada tingkat pendidikan dasar, persuasi guru itu lebih dipatuhi siswa daripada pendidikan menengah. Ini disebabkan patronase guru pada tingkat pendidikan dasar lebih kuat.

Keuntungan materi yang diperoleh guru atau institusi sekolah dengan penjualan LKS dan buku bisa mencapai 30% harga jual. Di balik keuntungan materi guru, terdapat beberapa kelemahan LKS. Pada siswa SD, LKS yang mesti dikerjakan siswa secara mandiri di rumah, telah menjadi beban orang tua untuk turut serta mengerjakannya.

Pada siswa SMP dan SMA, tugas-tugas LKS telah mengembangkan budaya menyontek. Hanya satu-dua siswa yang mengerjakan soal LKS, dan siswa lain beramai-ramai menyalinnya pada pagi hari sebelum mata pelajaran dimulai.

Kerugian yang dialami dunia pendidikan kita, LKS telah mematikan kreativitas siswa. Kehadiran LKS yang sering ''menggantikan'' guru yang kebetulan berhalangan hadir, telah menggersangkan ruang kelas dari pembelajaran yang hangat dengan pijar-pijar perenungan dan kegembiraan. Ruang kelas dipenuhi kegiatan kognitif dengan cara menjawab dalam lembaran ''terbatas'', tak memungkinkan tumbuhnya cara berpikir lateral, apalagi kreatif.

Ketika kurikulum berbasis kompetensi diterapkan di ruang kelas, masa kejayaan LKS runtuh seketika. Ada beberapa sebab. Pertama, tes bersama tak lagi diselenggarakan, karena evaluasi dilakukan guru yang bersangkutan tidak lagi dibuat tim MGMP. Kedua, bahan ajar dapat diupayakan guru secara kreatif, berasal dari sumber mana pun secara bervariasi. Ketiga, kegiatan belajar-mengajar di ruang kelas memerlukan daya cipta yang lebih leluasa dibandingkan dengan hanya mengerjakan LKS.

Akan tetapi, benarkah LKS benar-benar musnah dari ruang-ruang kelas dalam kegiatan belajar-mengajar? Jangan-jangan akan muncul lembar kerja atau buku bahan ajar dalam bentuk lain, yang sengaja diciptakan untuk menggantikan peran LKS.

* * *

- Drs S Prasetyo Utomo, instruktur (penatar) guru Bahasa dan Sastra Indonesia, tinggal di Semarang.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA