| Kamis, 22 Juli 2004 | SEMARANG |
14 Tahun Perjuangkan Normalisasi (I)Warga Gebangsari Terpaksa Tinggikan RumahBANJIR bagi warga Perumahan Genuk Indah Kelurahan Gebangsari Kecamatan Genuk memang bukan hal baru. Sudah sejak belasan tahun silam, warga menyiapkan ember dan kain pel setiap kali hujan mulai turun. Ironisnya, air yang menggenangi wilayah itu tidak hanya pada musim hujan, tetapi juga pada musim kemarau tahun ini. Berbeda dari warga yang tinggal di dekat pantai, genangan di Gebangsari bukan akibat rob melainkan akibat air hujan yang masuk wilayah itu tidak bisa mengalir keluar. Hal ini akibat saluran di sebelah barat mengalami pendangkalan serius, sehingga daya tampungnya pun kecil. Beberapa warga menuturkan, pendangkalan antara lain karena adanya tembok milik CV Tjahja Sari yang berdiri di sebagian badan saluran. Ketua RW IV R Maswoed mengatakan, setiap kali banjir datang, warga hanya bisa pasrah. Mereka menunggu sampai hujan reda dan genangan agak surut, baru kemudian mengeluarkan air dari dalam rumah. Beberapa warga menggunakan pompa untuk menyedot air. Warga lain menuturkan, sejak tahun 1988 sudah menaikkan lantai rumah hingga tiga kali. Kalau dihitung-hitung dana yang digunakan untuk keperluan itu sudah mencapai Rp 50 juta dan bisa untuk membeli rumah lagi. Dia mengakui pengurukan pertama setinggi lebih kurang 15 cm dilakukan tahun 1988. Semula lantai rumahnya merupakan ubin teraso, dan setelah diurug tetap diganti teraso. Saat itu dia memperkirakan tidak akan kebanjiran lagi. Namun ternyata perkiraan itu meleset dan beberapa tahun kemudian rumahnya tergenang lagi. Hal itu membuatnya berusaha menguruk lagi 20 cm, dan itu dilakukan tahun 1994. Lantai yang semula teraso, kemudian diganti dengan ubin keramik. Peninggian lantai rumah dilakukan lagi dengan cara menguruk sekitar 3,5 cm pada awal tahun 2004 ini. ''Jarak antara lantai dan atap yang semula 3,5 meter, kini hanya tinggal 2,2 meter,'' kata dia. (Purwoko Adi Seno-64) Kronologi 6 September 2002 Warga mengirimkan surat No 098/VI/09/02 ke Pemkot diterima Sekda Kota Drs Soekamto. 17 September 2002 Warga berdialog dengan Wagub I yang ketika itu dijabat Drs Achmad dan dibentuk tim. Desember 2002 Tim tidak menghasilkan penyelesaian apa-apa. Awal 2003 Warga mengirimkan surat keluhan no 611/01090 kepada Wagub I dengan tembusan pada Wali Kota H Sukawi Sutarip. 6 April 2003 Warga kerja bakti massal membersihkan saluran. 12 April 2003 Komisi D DPRD Kota Semarang meninjau ke lokasi. 14 Juni 2003 Normalisasi tahap pertama pun dilakukan. (Sumber : Penuturan Warga Gebangsari) |