logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 20 Juli 2004 SALA
Line

Atribut Perpeloncoan Warnai MOS

WONOGIRI-- Seruan DPRD, orang tua murid, dan Dewan Pendidikan Kabupaten Wonogiri agar masa orientasi sekolah (MOS) tak dijadikan perpeloncoan bagi murid baru tak digubris. Terbukti, kemarin atribut perpeloncoan masih mewarnai MOS hari pertama masuk sekolah.

Kalangan orang tua murid mengeluh anak mereka diwajibkan mengenakan aneka aksesori perpeloncoan. Para siswa baru itu wajib mengenakan rompi dari tas kresek, karung gandum, topi cething (wadah nasi), membawa tas dari pembungkus tepung terigu cap Segitiga Biru, kalung rentengan tutup botol limun, dan peneng bertuliskan nama. Mereka juga diwajibkan membawa aneka bumbu dapur, gelas, dan piring.

''Kepala sekolah, guru, pengawas, komite sekolah, Dewan Pendidikan, dan pejabat Dinas Pendidikan semestinya melarang kegiatan yang mengarah ke perpeloncoan. Sebab, pemerintah telah lama melarang perpeloncoan,'' kata seorang orang tua murid.

''Mereka harus bertanggung jawab atas perpeloncoan yang dikemas dengan kedok MOS. Jangan ibarat kura-kura dalam perahu alias pura-pura tidak tahu,'' katanya.

Melihat seruan tidak digubris, anggota DPRD Wonogiri Sardi Djoko Praptopo SE dan Subandi Pr SPd, mantan guru SMPN 2 Wonogiri dan mantan guru SMEA Jatisrono, geram. Kegeraman itu pula yang dirasakan anggota Dewan Pendidikan Kabupaten Wonogiri, Tulus Premana Edi.

Subandi mengatakan, sebaiknya sekolah dilarang menyelenggarakan MOS jika hanya dijadikan kedok perpeloncoan. Sebab, hal itu akan menyulut api kekejaman dan balas dendam dari murid senior ke murid baru, tanpa memedulikan kadiah dan nilai edukatif.

''Yang muncul hanya kekejaman dan balas dendam kepada murid baru dengan aneka dalih dan pembenaran sepihak,'' katanya.

Tidak Sulit

Tulus mengemukakan tidak sulit melarang perpeloncoan. ''Sebab, cukup ditangani kepala sekolah bersama para guru. Namun mengapa penanggung jawab di lingkungan sekolah itu seakan-akan tak memedulikan dan membiarkan MOS berlangsung sebagai perpeloncoan?''

Bagi Sardi, sangat sulit tidak menyebut MOS sebagai perpeloncoan. Sebab, murid baru diwajibkan memakai atribut aneh-aneh. Barang itu terkadang sangat sulit diperoleh karena termasuk langka. Celakanya, kegagalan memperoleh atribut itu dijadikan alasan bagi siswa senior untuk menghukum.

''Saya minta Kepala Dinas Pendidikan, kepala sekolah, dan guru menghentikan MOS yang dipakai sebagai kedok perpeloncoan,'' kata dia.

''Kalau tak mampu menghentikan dan mengarahkan ke hal positif yang bermuatan pendidikan, sebaiknya mereka mengundurkan diri,'' tambah Tulus dan Subandi.(P27-86)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA