logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 20 Juli 2004 SALA
Line

Hari Pertama Masuk Sekolah

Meski Repot, Orang Tua Bangga

PAGI-PAGI benar sekitar pukul 05.00 Govin (3,5) sudah bangun. Hal itu berbeda dari biasanya. Sebab, anak tunggal pasangan Atik Setyawati dan Wahyu Pranowo Hadi, warga Perum Jungke Permai Kecamatan Karanganyar itu biasa bangun pukul 06.00 atau 07.00. Bahkan, orang tuanya harus ngoprak-ngoprak terlebih dahulu sebelum memandikannya. Demikian juga dengan Ratu (4,5), anak pasangan Bramantyo dan Dian Tanti, warga Perum Jaten, Kecamatan Jaten. Bahkan dia membangunkan kedua orang tuanya sebelum minta dimandikan. Sebab, kedua orang tuanya masih tidur.

Ada apa gerangan, sehingga kedua anak itu melakukan kegiatan yang lain dari biasanya? Ternyata, Senin (19/6) kemarin adalah hari pertama siswa masuk sekolah, termasuk anak-anak TK. Ya, hari pertama masuk sekolah selalu merepotkan siapa saja yang terlibat, baik orang tua, guru, bahkan tukang becak atau sopir jemputan yang mengantar anak-anak itu.

Sorenya sebelum berangkat tidur, Ratu yang bersekolah di TK Al Hidayah Masjid Agung Karanganyar itu membalik-balik buku dan alat tulis yang sudah ditaruh rapi di dalam tas oleh orang tuanya. Dia juga membalik-balik seragam yang akan dikenakan esok hari. Demikian juga dengan Govin yang bersekolah di TK Indria Karanganyar. Bahkan, dia mempersiapkan bekal (roti) sendiri yang diperoleh dari pamannya.

Merasa Bangga

Atik, yang pada saat itu terpaksa cuti dari pekerjaannya, mengaku terpaksa bangun pagi untuk mempersiapkan segala kebutuhan baik untuk suaminya yang akan berangkat bekerja maupun anaknya yang baru kali pertama masuk sekolah. Repot memang, bahkan kerepotan itu dirasakan sejak mendaftarkan anaknya bersekolah. Namun, dirinya bangga meski bertambah repot karena beban pekerajaannya di rumah harus bertambah. ''Wah ya repot Mas, tapi mau apa lagi. Semua kan demi masa depan anak. Meski repot, sebagai orang tua saya tetap bangga,'' kata dia yang berharap anaknya tidak rewel di sekolah.

Sebab, anaknya itu pemalu dan sering rewel. ''Anak saya, baik di rumah maupun di sekolah rewel sih tidak. Sebab, pernah mengikuti play group. Yang tidak kuat itu ya ceriwisnya,'' kata Bramantyo secara terpisah.

Bagaimana dengan para guru? Tampaknya para pahlawan tanpa jasa itu memaklumi tingkah anak-anak.

''Biasanya anak-anak di komunitas yang baru, seperti di sekolah baru, hanya mencari perhatian. Apalagi teman-temannya bertambah banyak. Sebagai guru yang sudah mengajar beberapa lama, saya memaklumi tingkah mereka yang lucu-lucu,'' kata Endah, salah satu guru TK Al Hidayah.

Menurutnya, meski kadang-kadang bertingkah aneh, keinginan kuat anak yang ingin bersekolah jangan sampai dihentikan orang tua. Ditegur pun jangan kalau memang tindakan itu tidak keterlaluan dan membahayakan. Dalam kondisi seperti itu, orang tua justru harus membesarkan hati anaknya dengan cara meminta dia menceritakan pengalaman pertamanya di sekolah. Setelah itu, orang tua membimbingnya secara rutin.

''Dalam pendidikan usia dini di taman kanak-kanak, peran orang tua dan guru sangat penting bagi perkembangan anak selanjutnya.'' (Langgeng Widodo-20e)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA