logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 20 Juli 2004 SALA
Line

Kebakaran, Momok Pedagang Pasar Tradisional

KOTA - Kebakaran pasar yang beruntun membuat waswas pedagang di beberapa pasar tradisional di Solo. Bahkan ada yang menduga musibah itu merupakan upaya eliminasi pasar tradisional di Solo. Pasalnya, setelah kebakaran kemudian datang investor yang mengajukan diri untuk membangun ulang pasar.

"Satu demi satu pasar tradisional di Solo mulai terbakar. Entahlah, apakah akan ada lagi pasar yang jadi korban. Kebakaran itu seolah-olah menjadi alasan masuknya investor ke pasar. Kami khawatir kebakaran pasar itu untuk meminggirkan pasar tradisional," ujar Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Nusukan (Pappan) Aris Saputra kepada Suara Merdeka, kemarin.

Sementara itu Pengurus Himpunan Pedagang Pasar Klewer (HPPK) Faizul Kirom mengakui, musibah yang menimpa Pasar Gading dan Nusukan memicu keresahan kalangan pedagang di bursa tekstil tersebut. Hal itu dinilainya wajar. Pasalnya, beredar kabar miring bahwa kebakaran dikait-kaitkan dengan rencana renovasi total.

Lantaran itulah pedagang di tempat tersebut kini sangat waspada untuk menghindari musibah menimpa tempat mereka. "Pedagang semakin menggiatkan jaga malam untuk mengantisipasi karena biasanya kebakaran di pasar terjadi pada malam hari. Petugas yang jaga juga dilipatkan jumlahnya setelah musibah kebakaran di Pasar Gading," kata dia.

Perbaiki Instalasi

Selain itu, mereka juga menyiapkan alat pemadam api ringan di beberapa sudut pasar 100 buah. Jika sewaktu-waktu musibah itu terjadi bisa cepat ditanggulangi. Pedagang juga mendesak agar instalasi listrik di tempat itu segera diperbaiki. Lantaran faktor usia, instalasi diperkirakan sudah aus dan perlu pembaruan. Apalagi sering terjadi hubungan arus pendek yang berpotensi memicu kebakaran.

Berangkat dari musibah itu pula, Aris menyatakan, perlu adanya forum pedagang pasar tradisional se-Solo. Forum itu untuk mempertahankan keberadaan pasar tradisional yang terancam punah akibat berbagai persoalan.

Menurut dia, forum tersebut bisa mewadahi seluruh pedagang di pasar tradisional bisa saling berkoordinasi dan merumuskan langkah bersama saat menghadapi musibah yang jadi ancaman bersama. Musibah kebakaran, katanya, sudah sampai taraf memprihatinkan lantaran terjadi dalam tempo relatif singkat.

Jeda antara kebakaran di Pasar Kabangan yang meluluhlantakkan seluruh kios dan los dan musibah yang melanda Pasar Nusukan kurang dari satu tahun. Belum berselang satu bulan kebakaran di pasar terbesar di Solo utara itu, Pasar Gading pun terbakar. "Jika musibah itu bergulir terus, bisa dibilang seluruh pedagang di pasar mana pun resah karena sepertinya mereka menunggu musibah datang."

Aris mengatakan, aparat perlu mengambil sikap tegas dalam menghadapi persoalan di sekitar pasar. Misalnya, dengan merazia kompor minyak secara kontinu. Kebakaran beruntun tersebut kebanyakan disebabkan oleh kompor meledak. Selain itu, dia juga meminta agar instalasi listrik yang berbahaya segera diperbaiki untuk meminimalkan risiko tersebut. (G18-17e)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA