logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 20 Juli 2004 SALA
Line

Pedagang Nekat Pakai Kompor Minyak

  • Korban Kehabisan Modal

KOTA-Meski kebakaran yang disebabkan letupan kompor minyak nyaris menghanguskan seluruh Pasar Gading, masih ada pedagang yang nekat menggunakan peralatan masak itu di kios atau losnya.

Dari data yang dihimpun Suara Merdeka, terdapat lima pedagang yang masih mengoperasikan kompor tersebut di sekitar lokasi pasar. Mereka bukan hanya pedagang makanan. Pedagang nonmakanan pun tetap memakai kompor minyak. Padahal, telah beberapa kali pedagang tersebut ditegur dan diminta menggantinya dengan kompor arang.

Ketika dimintai konfirmasi, Kepala Pasar Gading Eka Budi Santosa mengakui hal itu. "Dinas Pengelolaan Pasar bersama aparat beberapa kali menertibkan pedagang yang punya kompor minyak. Namun, masih ada yang menggunakannya. Ke depan, mereka akan ditertibkan lagi dan jika nekat kompornya kami sita," katanya, kemarin.

Sementara itu, suasana Pasar Gading setelah kebakaran belum normal. Beberapa pemilik kios yang dagangannya ludes belum berjualan meski telah disediakan tempat sementara. Mereka masih menunggu penyelesaian pembangunan ulang kios tersebut.

Menurut penuturan beberapa pedagang, terbakarnya delapan kios di Pasar Gading berimbas buruk terhadap puluhan pedagang lain di pasar kelas III itu. Hampir seluruh penjual di tempat itu kini mengeluhkan tersendatnya aktivitas di sekitar lokasi reruntuhan itu. "Suasana perdagangan belum normal. Semuanya tersendat dan pembeli sepi. Apalagi jalanan becek, berbau, dan banyak lalat yang membuat pembeli malas datang," ujar seorang pedagang, Rini.

Modal Ludes

Dampak paling berat dialami pedagang yang kiosnya ludes terbakar. Dari delapan pedagang, baru seorang yang kembali berjualan. Pasalnya, mereka tak lagi punya dagangan atau modal untuk berjualan. "Pedagang yang barangnya ludes belum berjualan lagi lantaran modalnya habis. Baru seorang yang berjualan," kata Eka.

Untuk meringankan beban pedagang tersebut, selama belum menempati kios yang sekarang sedang dibangun ulang, retribusi belum ditarik. Setelah mereka menempatinya, baru nanti diminta merapel. Per hari pedagang itu dikenai kewajiban membayar retribusi Rp 1.250 dan ditambah Rp 250 jika dagangannya sampai di pelataran.

Musibah itu juga berpengaruh terhadap sekitar 50 pedagang pakaian bekas yang biasa mangkal di dekat kios yang terbakar itu. Mereka tak dapat pembeli lantaran lokasi itu berserakan bak kapal pecah dan tak mengundang minat pembeli. Melihat kondisi itu, beberapa di antaranya memilih meliburkan diri sambil menunggu pasar tertata kembali.

Lesunya perdagangan juga dirasakan pedagang lain di dalam pasar. Omzet penjualan mereka pun merosot tajam akibat sedikitnya pembeli yang datang ke tempat itu. "Biasanya cuma hari tertentu yang ramai. Pada hari biasa penjualan tak terlalu banyak. Setelah kebakaran ini tambah sepi lagi," ujar Sudarwati, pedagang yang lain. (G18-17e)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA