logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 20 Juli 2004 PANTURA
Line

Petani Bawang Gadaikan Ratusan Pompa Air

  • Untuk Biaya Anak Sekolah

BREBES -Tahun ajaran baru sekolah, dirasa petani bawang merah di Brebes merupakan masa yang paling sulit.

Betapa tidak? Guna mencukupi kebutuhan anak sekolah, mereka harus menggadaikan alat-alat pertanian, seperti pompa air.

Seperti yang terlihat di Kantor Pegadaian, sebanyak 200 pompa air milik para petani bawang merah menumpuk di gudang, dijadikan barang jaminan.

Ny Ipah (45), seorang petani mengaku, dirinya terpaksa menggadaikan pompa air karena hasil panen tidak mencukupi untuk membayar sekolah anaknya. "Karena kurang, terpaksa apa yang saya miliki digadaikan. Nanti setelah panen lagi, saya tebus. Biasa kok, Mas, seperti tahun-tahun lalu juga," katanya, kemarin.

Dia tidak memerinci, berapa besar hasil panen bawang yang dipetik. Yang jelas, katanya, menggunakan jasa pegadaian pada masa tahun ajaran baru untuk menutup biaya pendaftaran sekolah anak pertama masuk perguruan tinggi dan anak kedua masuk SMP, juga mendekati musim penghujan.

15 Persen

Kenapa? "Ya, kalau musim hujan pompa air tidak begitu dibutuhkan. Guna menambah modal tanam, pompa saya gadaikan," jawabnya.

Sementara itu Kepala Kantor Pegadaian, Akrom ketika dihubungi mengatakan, selama masa tahun ajaran baru sekolah ini jumlah nasabah mengalami kenaikan sebesar 15 persen.

"Memang ada kenaikan mencapai 15 persen. Dari pengakuan sebagian besar nasabah, uang dari hasil gadai barang itu digunakan untuk membayar pendaftaran sekolah," ucapnya.

Dia mengatakan, sebagian besar barang yang dijaminkan berupa pompa air, sepeda motor, perhiasan, dan kain batik. Secara terperinci, barang jaminan hingga Juli ini tercatat 300 pompa air dan 70 unit sepeda motor. "Bulaan sebelumnya, hanya terdapat 52 sepeda motor dan 200 unit pompa air. Itu belum terhitung perhiasan yang jumlahnya cukup banyak."

Sedangkan jumlah nilai uang yang dikeluarkan untuk melayani nasabah, Akrom mengatakan, dalam satu hari mencapai Rp 50 Juta. Secara periodik, untuk standar tahunan, jika pada 2003 sebesar Rp 12 miliar, maka dalam satu semester tahun ini sudah mencapai Rp 7,5 miliar.

"Kami memperkirakan nilai tersebut akan meningkat, mengingat saat musim penghujan petani biasanya menggadaikan alat-alat pertanian untuk tambah modal tanam," tandasnya.(G12-14a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA