| Selasa, 20 Juli 2004 | WACANA |
TAJUK RENCANAKita Diingatkan Persaingan dengan Negara Lain- Selama kuartal kedua tahun ini, tingkat perekonomian China mampu tumbuh 9,6%. Produk-produk negara yang menjadi raksasa ekonomi baru dunia itu merambah ke mana-mana termasuk ke Indonesia. Pada sisi lain, hampir semua produk ekspor unggulan kita seperti tekstil, garmen, dan furnitur banyak disaingi dan kita nyaris tak bisa mengimbangi terutama dari segi harga. Sengaja kita menggambarkan bagaimana ketangguhan negara tersebut untuk mengingatkan semakin ketat persaingan dengan negara-negara lain. Jangankan China, negara seperti Vietnam atau Laos saja sekarang sudah berbenah diri. Bila kita menyebut Thailand dan Malaysia maka gambarannya tetap kita yang paling buntut. Recovery setelah krisis relatif cepat berjalan sementara kita masih tertatih-tatih. - Persaingan antarnegara dalam bidang ekonomi semakin nyata dan frontal. Lihatlah bagaimana Sony Electronics dengan gampang memindahkan pabriknya dari Indonesia ke Vietnam dengan berbagai alasan. Negara-negara tetangga kita semakin memiliki keunggulan terutama dalam menarik investor asing. Sementara itu, kita sekarang tidak bisa lagi mengandalkan upah buruh murah sebagai comparative advantage karena upah di negara lain bisa lebih murah. Di Indonesia ongkos perburuhan menjadi besar karena bukan saja harus menghadapi tekanan kenaikan upah minimum setiap tahun melainkan juga banyak terjadinya unjuk rasa pekerja. Di samping itu, ketidakpastian dalam urusan hukum masih menjadi faktor risiko yang selalu diperhitungkan. - Soal kepastian politik dan keamanan sudah makin membaik. Pemilu berjalan relatif lancar baik dalam pemilu anggota legislatif maupun pemilu presiden dan wakil presiden putaran pertama. Pasar telah merespons positif atas semua itu. Sementara itu, dari aspek makro kita melihat kecenderungan terjadinya delinking, yakni keterpisahan antara dunia politik dan dunia ekonomi, sesuatu yang sudah lama ada di Thailand, Korsel, atau Malaysia. Di Indonesia hal itu mulai dirasakan ada meskipun belum 100% bisa dipercaya. Terbukti, banyak pengusaha yang masih bersikap wait and see sampai dengan pemilu presiden dan wakil presiden putaran kedua September mendatang. Bahkan, tidak sedikit yang mencari aman dengan menunggu pemerintahan dan kabinet yang baru. - Kondisi itu jelas kurang menguntungkan. Seharusnya dunia bisnis tak boleh menunggu terlalu lama karena kita seperti berpacu dengan waktu. Kita terus diingatkan negara-negara lain sudah bisa tumbuh di atas 9% per tahun sementara kita masih terasa berat hanya untuk mencapai 5%. Kalau sikap menunggu dibiarkan dan pertumbuhan kita masih rendah, ibarat iring-iringan kendaraan kita semakin berada di belakang. Mengapa delinking antara politik dan bisnis tadi tidak ditonjolkan sedemikian rupa sehingga perbaikan ekonomi bisa lebih cepat berjalan. Memang sekarang pun tidak terlampau buruk. Dan kenyataan membuktikan, karena persoalan-persoalan struktural dan fundamental perbaikan itu memang harus bertahap. - Persoalannya, negara-negara lain bisa lebih cepat. Karena itu, tak bisa kita hanya melihat faktor di dalam sementara faktor dari luar kurang diperhitungkan. Jadi, bisa saja pertumbuhan lebih cepat lagi jika para pelaku bisnis termasuk kalangan investor mendukung. Sayang investasi dan gerak sektor riil itulah yang sekarang terasa lamban. Pertumbuhan kredit perbankan hanya menuju ke sektor konsumtif. Belum banyak investasi baru yang dibiayai. Jadilah pertumbuhan ekonomi yang dicapai itu pun agak semu. Sekaligus berbahaya jika tidak dibarengi peningkatan produksi. Mengapa dana banyak menumpuk di bank? Siapa sebenarnya yang bersalah, apakah bank yang terlalu berhati-hati atau over protective ataukah pengusaha yang masih sangat khawatir. - Para elite politik seharusnya sama-sama meyakinkan, tidak akan terjadi sesuatu yang di luar dugaan. Mereka perlu mengedepankan komitmen untuk bersama-sama mementingkan bangsa. Berusaha menjaga iklim usaha agar investasi segera mengalir masuk. Pemilu presiden dan wakil presiden akan memasuki putaran kedua. Dua kandidat yang lolos pun sepertinya sama-sama diterima pasar sehingga tak perlu khawatir dengan adanya sentimen negatif. Bila bisa diyakinkan bahwa politik tidak akan mengganggu ekonomi maka seharusnya tak perlu ada kemandekan. Dan yang lebih penting, seperti disinggung di atas, persaingan tak mungkin menunggu kita tetapi justru bisa makin meninggalkan. |