logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 20 Juli 2004 NASIONAL
Line

Sisi Lain Pria-pria Metroseksual (1)

"Istri Saya yang Mengenalkan Spa"

Ponsel Danny Kurniawan Armananta (31) berdering. Hari itu Jumat (16/7) sore, suara lembut dari seberang telepon memintanya kembali ke Semarang untuk sebuah wawancara. Setengah tak percaya, pria berpostur tinggi ini balik bertanya.

Tapi yang terjadi cukup membelalakkan mata, dia dinominasikan sebagai simbol pria metroseksual Semarang oleh tim khusus yang digagas MarkPlus&Co.

Sosok perlente yang siang kemarin tampil bersetelan hitam itu pun masih tak percaya. Dalam wawancaranya di Smart FM dan MTV Sky FM, dia seolah-olah didaulat untuk menjadi simbol promosi pria berkarakter metroseksual. Sekilas memang tak ada yang aneh pada Danny. Barangkali orang bertanya-tanya, bukankah ada banyak Danny lain yang layak dinominasi jika kriterianya sebatas pengguna spa dan sesinggahan sejenisnya.

Spa, salon, pedicure (perawatan kaki), manicure (perawatan tangan dan kaki) memang segaris dengan karakteristik pria metroseksual. Tapi Zaenul Mutaqin, Perwakilan Bisnis MarkPlus&Co, lantas buru-buru menyangkal dengan serangkaian kata kunci.

Menurutnya, penilaian simbol yang di Inggris lekat dengan David Beckham itu tak bisa berhenti di situ. Sedikit dari sosok Danny haruslah punya keterbukaan, keaktifan, dan mampu menumbangkan batas gender pria dan wanita.

Tak segan-segan, managing director agensi periklanan Artek Group ini berbelanja atau menikmati perawatan bersama sang istri. Tampil sebagai sosok bersih dan peduli terhadap penampilan menjadi pilihan. "Prinsip saya satu, hidup sehat. Apa kata orang lebih baik cuek saja, toh istri saya mendukung. Paling tidak, menghargai sesuatu harus mulai dari diri sendiri," ujarnya dengan nada tenang.

Tentang gaya hidupnya, suami dari Nonik Zaenah ini mengaku enjoy. Tanpa mengungkit terlalu dalam tentang kebiasaan metropolis yang ditekuninya, Danny hanya merasa orang sesekali perlu menghargai diri sendiri. Itu sebabnya, dia tak takut mengakui melakukan 'pekerjaan lembut', seperti menemani istri belanja atau kebiasaan-kebiasaan lawan jenisnya.

"Istri saya lo yang justru mengenalkan spa," kata salah satu nominator Semarang Metroseksual Icon ini jujur. Terkesan feminin? Dia menilai justru sebaliknya. Untuk menembus sesinggahan yang selama ini hanya jadi milik kaum hawa tersebut, dia terpaksa membunuh perasaan gerah dengan anggapan minor sementara orang. Nyatanya, ritual merawat diri yang bisa menelan Rp 2 juta-3 juta per bulan itu justru menumbuhkan perasaan syukur.

Dalam keseharian, dia harus merelakan hampir 24 jam waktunya selama sepekan ditimpa kepenatan. Itu sebabnya, jeda istirahat jadi sangat berharga. "Saya usahakan ke spa. Toh tidak ada yang salah dengan perawatan ini, positif saja," jelasnya. Selepas spa, dia merasa bisa lebih konsentrasi dengan pekerjaan.

Selain spa, biasanya dia mencuci muka dengan facial scrub, rutin olahraga minimal 15 menit sehari, dan beberapa aktivitas perawatan ringan lainnya. Untuk menjaga kebugaran, dia selalu menyempatkan 4 kali spa di tempat langganan. Dan satu lagi ritual yang jarang terlupakan adalah potong rambut. "Saya usahakan setiap dua minggu sekali potong rambut," timpalnya.

Urusan rambut, lulusan sebuah universitas di Australia ini memang cukup teliti. Pernah karena terlalu panjang dan malas menyisir, rambutnya jadi tak karuan dan sulit diatur. Sejak saat itu dia rajin ke salon dengan potongan rambut cepak yang modis sehingga tak perlu pusing mengantongi sisir.

Bagi yang akan ikut berpartisipasi, bisa mengirimkan dukungan dengan SMS, ketik SMI spasi nama kandidat ke nomor 0852-250-14079 (renjani ps-58t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA