| Selasa, 20 Juli 2004 | NASIONAL |
Pekan Raya JakartaMeski Rugi, yang Penting Bisa Promosi
PEKAN Raya Jakarta (PRJ) atau lebih dikenal dengan Jakarta Fair, Minggu malam lalu resmi ditutup oleh Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso. Arena pamer yang digelar di bekas Bandara Kemayoran, Jakarta Pusat dan diikuti 1.000-an peserta itu dikunjungi oleh 2,2 juta orang. Menurut keterangan Ketua Umum Penyelenggara PRJ Siti Hartati Murdaya, nilai transaksi penjualan dibandingkan dengan tahun lalu meningkat 20% atau Rp 300 miliar. Namun, penyelenggara mengaku masih mengalami kerugian. Pendapatan yang diterima panitia selama pameran masih negatif, tidak sebanding dengan biaya operasional yang dikeluarkan. ''Pendapatan yang kami terima dari penyewaan sewa tempat dan penjualan karcis tidak sebanding dengan biaya operasional. Pembengkakan biaya operasional ini karena kami memperbaiki sejumlah fasilitas dan pembangunan sarana baru sebagai investasi,'' ujar Hartati. Namun dia menyadari, penyelenggaraan pameran yang masuk kategori terbesar di Asia Tenggara tersebut tidak akan memperoleh keuntungan dalam waktu singkat. ''Untuk bisa mencapai titik impas investasi yang ditanamkan, diperlukan waktu minimal lima tahun,'' ungkapnya. Terlepas dari kelebihan dan kekurangan penyelenggaraan PRJ kali ini, Dirut PT Sidomuncul Irwan Hidayat menilai PRJ 2004 sebagai yang terbaik dibandingkan dengan tahun-tahun lalu. Demikian juga PT Jakarta International Expo (JIE) sebagai penyelenggara pameran akbar ini, dia nilai sangat baik dan profesional. ''Saya merasakan, pelaksanaan kali ini adalah yang terbaik.'' Dia mengemukakan, karena PRJ sebagai arena promosi, secara materiil semua peserta akan merugi. Namun, dilihat dari nilai promosinya sangat menguntungkan. Hal ini mengingat dengan ikut serta dalam pameran di PRJ akan memberikan kesan perusahaan tersebut besar. Selain itu, dengan hadir di pameran bergengsi ini, para pengunjung bisa mencoba produk-produk yang dihasilkan oleh produsen. Hal ini jelas akan memberikan dampak positif bagi perusahaan. Sebab dengan mencoba, merasakan atau mencicipi produk yang dipamerkan, akan menimbulkan kepercayaan publik terhadap produsen dan selanjutnya timbul keinginan untuk membeli produknya. Irwan mengakui, manfaat ikut pameran relatif besar. Karena itu, tidak ada salahnya setiap kali digelar diikuti secara tekun dan tidak terputus sehingga biaya yang dikeluarkan untuk promosi tidak sia-sia. ''Saya pikir, keikutsertaan perusahaan dalam pameran harus rutin. Seperti Sidomuncul yang tidak pernah absen ikut pameran di PRJ,'' tuturnya. Masalah ini perlu mendapat perhatian karena pada dasarnya promosi itu investasi. Bedanya, jika berinvestasi lalu berhenti dananya tidak hilang, tapi jika promosi dilakukan terputus-putus dana yang dikeluarkan akan hilang cuma-cuma. ''Karena itu pada hemat saya, jika sekali ikut promosi dalam suatu pameran seperti PRJ, jangan berhenti dan harus diikuti secara terus-menerus. Dengan demikian investasi untuk promosi tidak hilang,'' ujarnya. Tidak Untung Menyinggung masalah keuntungan materi yang didapat dari pameran ini, Irwan kembali mengatakan, dari segi materi memang tidak untung dan bahkan malah rugi. Namun dilihat dari segi keuntungan, kesempatan untuk berpromosi di arena pamer jelas menguntungkan, apalagi jika pameran akbar ini dikelola dengan baik dan profesional. Akan tetapi dia mengakui, biaya untuk ikut serta dalam pameran tidak murah. Bayangkan, dengan mengambil tempat di ruang terbuka, dia harus mengeluarkan dana Rp 300 juta. Sementara itu, penghasilan yang didapat hanya lebih kurang Rp 230 juta. ''Tapi itu nggak apa-apa, karena kami hanya memikirkan nilai promosinya,'' tandasnya. Dia berpendapat, nilai promosi ini memang luar biasa karena bisa mendekatkan produk-produk secara langsung kepada konsumen. Hal ini bukan berarti beriklan di televisi tidak penting. ''Berpromosi lewat televisi tetap penting tapi kurang efektif kalau tidak ada pendekatan langsung kepada masyarakat." Peran Pemprov Melihat manfaat ikut berpameran begitu besar, dia mengimbau agar Pemprov Jateng berperan mengkoordinasi perusahaan-perusahaan di wilayahnya untuk ikut pameran di PRJ pada tahun mendatang. Pabrik-pabrik andalan seperti jamu dan rokok bisa diketengahkan dalam pameran akbar yang diselenggarakan setiap tahun itu. Untuk maksud itu, kata dia, Pemprov jauh-jauh hari bisa memesan tempat baik di ruang terbuka ataupun tertutup kepada panitia penyelenggara. Tempat pamer ini harus segera dipesan, sebab kalau terlambat tak akan kebagian. Tempat tersebut bisa diisi oleh perusahaan unggulan di Jateng. Selain itu, juga bisa disediakan untuk perusahaan kecil yang kurang mampu, seperti perusahaan kerajinan tangan, kulit kerang, dan gitar. Jumlah mereka ribuan dan tersebar di pelosok Jateng. Tempat pamer tersebut juga bisa diisi berbagai foto.(Eko Sumantri-33j) | ||||