logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 20 Juli 2004 NASIONAL
Line

Akbar: Kalla Tak Berkaitan Golkar

  • Belum Memutuskan Dukungan

JAKARTA- Partai Golkar belum secara resmi memutuskan pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang akan didukung dalam pemilu putaran kedua pada 20 September mendatang.

Namun dari pernyataan ketua umumnya, Akbar Tandjung, akhir-akhir ini, makin terbaca ke mana kecenderungan partai berlambang beringin itu bakal mengarahkan dukungan.

Akbar yang kemarin (19/7) menghadiri pengambilan sumpah wakil ketua dan ketua muda MA di Istana Negara, masih belum mau transparan menyebut apakah Golkar akan memberikan dukungannya ke pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)-Jusuf Kalla atau Megawati Soekarnoputri-Hasyim Muzadi.

''Ke mana kami akan memberikan arahan pada seluruh jaringan partai dalam pemilu putaran kedua, pada saatnya akan kami tegaskan ke SBY atau ke Mega. Akan tetapi pada waktu ini tentu kami ingin memastikan mengenai hasil penghitungan suara terlebih dulu,'' paparnya.

Meski diakui dari tanda-tanda sekarang kecil peluang pasangan calon dari Partai Golkar, Wiranto-Salahuddin Wahid, bisa melaju ke putaran kedua, Akbar tetap merasa harus mengikuti proses penghitungan suara hingga selesai. Setelah itu, baru mereka menentukan langkah-langkah selanjutnya.

Dia mengemukakan, pertimbangan Golkar dalam menjatuhkan pilihan adalah mana dari pasangan SBY-Kalla dan Mega-Hasyim yang terbaik bagi pembentukan pemerintahan ataupun bagi partai itu ke depan.

Saat ditanya, mengapa pihaknya tidak mendukung pasangan SBY-Kalla karena Kalla sudah jelas orang Golkar, Akbar justru berkelit. ''Dia orang Golkar tapi bukan resmi (cawapres) Golkar. Dia kan jadi cawapres atas kehendak pribadi. Tidak ada kaitannya dengan Partai Golkar. Yang pasangan capres-cawapres Golkar adalah Wiranto-Salahuddin Wahid.''

Bagi Golkar, ujar dia, yang terbaik bagi pemerintahan ke depan adalah bagaimana pemerintahan itu menghasilkan kabinet yang kuat, pemerintahan yang efektif, didukung oleh orang-orang yang berkompetensi, mempunyai kerja sama tim, dan yang tidak kalah penting memperoleh dukungan kuat dari parlemen.

Fungsionaris PDI-P yang juga suami Megawati Soekarnoputri, Taufik Kiemas, mengisaratkan kedekatan partai itu dengan Partai Golkar. Kedekatan tersebut bahkan sudah terjalin sejak kedua partai itu masih kecil.

''Yang pasti selama lima tahun chemistery-nya sama, platformnya sama. Ke depan mudah-mudahan sama juga. Kalau sudah gitu kan tinggal omong dan negara ini kan sejak awal hasil gotong royong, tidak bisa sendiri-sendiri,'' paparnya.

Tidak Sulit

Jusuf Kalla, cawapres pasangan SBY, mengklaim untuk mengalahkan pasangan Mega-Hasyim tidak akan terlalu sulit. "Tidak terlalu sulit untuk mengalahkan Bu Mega," kata Jusuf Kalla dalam sambutan di acara silaturhami dengan tim relawan SBY-Kalla di kediaman seorang anggota tim sukses di Jalan Perintis Kemerdekaan, Banjarmasin, Senin (19/7).

Meski demikian Kalla menyatakan, akan tetap kerja keras. "Karena tim Bu Mega juga pasti kerja keras. Kita hanya butuh sekitar 18 persen (untuk menang). Sedangkan Bu Mega butuh sekitar 25 persen secara nasional," katanya.

Kalla juga memprediksi konstituen pasangan yang kemungkinan besar tidak lolos ke putaran kedua, Wiranto-Salahuddin Wahid dan Amien Rais-Siswono, akan mendukung duet dirinya dan SBY. (A20,dtc-87,83j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Liputan Pemilu
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA