| Selasa, 20 Juli 2004 | NASIONAL |
Gus Dur Bertemu Mega
JAKARTA -Untuk kali pertama sejak lengser dari jabatannya sebagai presiden 2001, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Senin petang kemarin bertemu dengan Presiden Megawati Soekarnoputri. Pertemuan yang digelar menjelang pemilihan presiden 2004 putaran kedua ini menjadi menarik, karena penuh nuansa politis. Namun Gus Dur menegaskan, tidak ada deal politik apa pun dengan Mega, karena pertemuan tersebut sebatas silaturahmi secara pribadi. ''Tapi kalau ada yang menafsirkan macam-macam ya silakan. Pokoknya saya atas nama pribadi. Bukan atas nama PKB,'' ungkap Ketua Dewan Syuro DPP PKB tersebut, ketika dicegat wartawan sesaat sebelum meninggalkan rumah Mega. Pertemuan itu di kediaman Mega Jalan Kebagusan, Jakarta. Gus Dur datang sendirian tanpa didampingi oleh pengurus DPP PKB dan PBNU. Sementara Mega didampingi suaminya, Taufik Kiemas. Di kediaman Mega juga hadir Wakil Sekjen DPP PDI-P Pramono Anung, tim sukses Mega-Hasyim Tjahjo Kumolo, dan sejumlah fungsionaris lainnya. Namun mereka tidak ikut serta dalam pertemuan "kakak beradik", Mega-Gus Dur. Mereka menunggu di ruang lain di rumah Mega. Gus Dur berangkat dari Kantor PBNU Jalan Kramat Raya Jakarta sekitar pukul 16.00 WIB, dan pertemuan tertutup baru berakhir sekitar pukul 18.30 WIB. Pertemuan dua tokoh politik menjelang pilpres putaran kedua 20 September mendatang itu menjadi menarik, menyusul maraknya dukung-mendukung terhadap pasangan capres dan cawapres. Tjahjo Kumolo menggambarkan, pertemuan kedua tokoh politik tersebut dalam suasana yang sangat santai. Mereka banyak bergurau dan sering terdengar dari kejauhan saling melepas tawa. ''Gus Dur sering ketawa lepas, sehingga terdengar dari kejauhan,'' ujarnya, yang menyaksikan pertemuan tersebut bersama Pramono di ruang tunggu. Dalam suasana yang akrab, kedua tokoh yang dulu saling menganggap sebagai kakak-beradik itu sempat dijamu empek-empek, ketela goreng, dan minuman segar air kelapa muda. ''Itu yang saya tahu, tak mendengar pembicaraan dua tokoh itu.'' Usai pertemuan Gus Dur langsung dibawa mobil keluar halaman rumah Mega yang luas. Sesampai di luar pintu pagar, mobil yang membawa Gus Dur terpaksa berhenti, karena sejumlah wartawan mencegat dan ingin mendengarkan langsung hasil pertemuannya dengan Mega. Sambil membuka jendela, Gus Dur mengatakan, pertemuan itu untuk memenuhi undangan Taufik Kiemas. Dia diminta untuk bisa bertemu dengan Megawati. ''Nah, sekarang saya sudah bertemu Mbak Mega. Udah begitu, sudah diatur hari ini ya sudah,'' ujar Gus Dur. Dia mengaku dalam pertemuan itu tidak ada pembicaraan yang spesifik, apalagi menyangkut dukungan PKB pada Mega-Hasyim yang akan maju ke pilpres putaran kedua nanti. Gus Dur secara tegas mengatakan, kedatangannya tidak berkaitan dengan PKB. ''Tak ada urusan dengan PKB. Ini urusan pribadi saya. Dari dulu hubungan saya dengan Mbak Mega baik-baik saja.'' Masalah yang agak serius dibicarakan dan disampaikan kepada Presiden Megawati adalah soal kecurangan KPU. Karena itu, akibat ketidakberesan itu ada konsekuensinya, KPU harus dibubarkan. Kalau tidak, akan muncul akibat yang buruk. ''Tadi saya ngomong begitu. Karena itu, konsekuensinya, KPU harus dibubarkan, Kalau tidak, kita tidak tahu bagaimana kelanjutannya.'' ''Apa tanggapan Ibu Mega?'' tanya wartawan. ''Tanggapannya, biasa kan diam saja, kayak belum tahu aja.'' Gus Dur mengakui, secara pribadi hubungannya dengan Mega tetap baik. Namun kalau soal politik, menurut dia, sudah semestinya membangun kehidupan yang demokratis untuk menjaga persatuan bangsa dan membuat Indonesia menjadi negara besar. Saat menjawab pertanyaan wartawan, dia kembali menegaskan, beberapa waktu lalu bertemu dengan Taufik Kiemas. Dalam pertemuan itu Taufik memintanya untuk bisa bertemu Megawati. ''Sudah saya penuhi hari ini. Sudah selesai.'' Ditanya apakah pertemuan itu akan ada kelanjutannya, dia menegaskan, semua itu terserah perkembangan dan keperluannya pada masa mendatang. ''Dilanjutkan terserah, masalahnya begitu. Selamanya saya tidak punya musuh. Kalau orang lain jadikan saya musuh, itu terserah. Saya nggak pernah,'' katanya, ketika disinggung bahwa banyak yang menilai dia selama ini memusuhi Megawati. ''Apa Anda memberikan saran kepada Ibu Mega soal urusan negara?'' tanya wartawan. Pada waktu pertemuan tadi, dia mengaku hanya mengingatkan kewajiban dan tugas Megawati sebagai kepala negara. ''Dalam urusan negara, mestinya harus perhatikan urusan negara. Itu saran saya pada Mbak Mega. Masak saya nyuruh dia mengurus kebun binatang,'' ujarnya, berkelakar. Gus Dur menegaskan, pertemuannya dengan Mega bukan soal dukung-mendukung menjelang pilpres. Soal ada yang menafsirkan seperti itu, terserah mereka yang memberi tafsir dan mengartikan pertemuan tersebut. ''Biasa ditafsiri, kalau takut ditafsiri macam-macam ya jangan jadi pemimpin.'' Gus Dur juga menepis anggapan pertemuan dengan Mega juga diartikan dukungan PKB terhadap pencalonan Megawati. Dia kembali menegaskan, tidak ada urusan dengan PKB karena kedatangannya atas nama pribadi. ''Saya bukan atas nama PKB. Kalau nanti keterlaluan, saya tinggalin PKB.'' Dia mempersilakan kepada masyarakat untuk mengartikan pertemuannya dengan Megawati, dan mempersilakan menafsirkan sesuai dengan kemauan mereka. Bagi dia, yang penting tidak ada deal politik dengan Mega berkaitan dengan masalah dukungan menjelang pilpres. ''Jangan semua dilihat dari sudut politik, karena ada tempatnya sendiri-sendiri. Ini kan silaturahmi dan tak ada simpul apa-apa. Mega juga tidak ada deal untuk memberikan kepastian apa-apa, dan Mega tidak omong apa-apa,'' katanya. ''Sekali lagi ini silaturahmi, dan antara saya dan Mbak Mega tidak pernah ada sakit hati. Kalau ada penilaian, itu bersifat politis. Saya tidak pernah sakit hati terhadap siapa pun.'' (di-33t) | ||||