| Selasa, 20 Juli 2004 | MURIA |
Ngrasani Para PelayanOleh: Anis Sholeh Ba'asyinADA baiknya kalau sekali waktu kita menarik diri dari jebakan-jebakan sejarah, hitam-putih cara pandang, laki-perempuan penyikapan, siang-malam keberadaan, dan mencoba duduk di matahari kesadaran untuk sesekali mencecap kesunyian. Dari sana, dari pusat, dari sangkan paran kesadaran, kita punya kesempatan untuk -sekali lagi- memandang segalanya; cuma kali ini dengan kejernihan. Ruang sunyi itulah, yang kini terlipat di ketersembunyian, ketlingsut di tengah riuh rendah perebutan, kebisingan tarik-ulur, keributan tawar-menawar, kenyaringan tuding-menuding, kegaduhan jegal-menjegal, yang lucunya tanpa malu kita beri bingkai kemuliaan, dan tanpa risih kita selimuti dengan keagungan sebagai tindakan ''menyejarah''. Ah! Mungkin itu terlalu nyufi, terlalu sok tasawuf. Padahal yang dibutuhkan kejelasan: definitif, transparan, dan langsung ke sasaran. Bukan penjelasan yang bersayap, kabur dan ambigu, yang terlalu sering jadi alat penyesatan. Tapi, itu sungguh tidak dimaksud untuk menyesatkan. Bukan apa-apa, tapi karena saya sendiri -jujur saja- juga tidak terlalu paham maknanya. Mudah-mudahan Anda sama tidak pahamnya dengan saya. Karena sesungguhnya kita sudah terlalu sering disesatkan, dan kadang malah sering suka menyesatkan diri. Nah, daripada berpanjang kata, lebih baik kita pura-pura paham. Itu lebih mudah, karena kita bisa langsung bergaya, seolah ikut memasuki ''ruang kesunyian'' bersama para sufi, lantas pura-pura memandang kembali segalanya dengan kejernihan. Misalnya, cuma misal lho, dengan jernih kita merenungkan kepemimpinan. Kita merenungkan kalimat yang sering diucapkan para santri: Sayyidul qoumun khodimuhu, pemimpin suatu kaum adalah pelayannya. Itu aneh, karena artinya pemimpin adalah pelayan, dan rakyat tuannya. Jadi, sebagai tuan, rakyatlah yang menentukan apa yang mesti dikerjakan pemimpin. Kalau, misalnya, rakyat lapar dan minta makan, tanpa ba-bi-bu, pemimpin harus cancut taliwondo menyiapkan makanan. Atau kalau rakyat teriak minta baju, meski sedang leyeh-leyeh, pemimpin harus gumregah lari -meski ngos-ngosan - mencari baju. Kalau rakyat mrengut karena genting bocor, tanpa disuruh, pemimpin harus jumpalitan naik ke atap membetulkannya. Kalau tidak melakukan itu semua, para pelayan sebaiknya dipecat saja. Lebih Prinsip Disamping itu, ada yang lebih prinsip lagi. Tuan harus mendapatkan segala sesuatu sebelum para pelayan memperolehnya. Artinya, yang makan duluan adalah rakyat, dan bukan pemimpin. Yang bajunya bagus itu rakyat, pemimpin belakangan. Yang berumah layak itu rakyat, para pemimpin menyusul kemudian. Jadi kalau dipikir, rasanya kok aneh juga, kenapa sih begitu banyak orang yang mau-maunya saling sikut, saling sikat, cuma untuk berebut posisi yang rendah dan hina begitu. Mungkin, cuma mungkin lho, itu karena dalam kenyataannya semua memang sudah serbaterbalik. Para pelayan tampaknya telah bersekutu, dan dengan perangkat lunak maupun perangkat keras (kekuatan birokrasi-militer) menyandera kita; dan begitu saja membalikkan posisi, sehingga giliran pemimpin jadi tuan dan rakyat melayani. Kini, yang mesti pontang-panting jumpalitan, kepanasan-kehujanan adalah rakyat. Sedang para pemimpin cukup duduk manis, sambil merampoki pikiran kita. Itu semua terjadi, karena para pemimpin berpikir wajib hukumnya bagi mereka untuk melakukan tindakan yang bisa menaikkan derajat kepelayanan yang kadhung dipersepsi sebagai hina, ke derajat ketuanan yang dipersepsi mulia. Tapi, nanti dulu, yang terbalik itu kenyataan atau mata kesadaran kita? Itu harus diselesaikan dulu. Kalau tidak, konon kita akan gagal menemukan kejernihan seperti yang dimaksudkan tersebut.(42a) (Penulis, Budayawan asal Pati) |