| Selasa, 20 Juli 2004 | SEMARANG |
Lontong Mbak SukesiSambalnya Pakai Gula Aren LimbanganANDA termasuk orang yang doyan makan lontong pecel? Bila ya, sekali-sekali datanglah ke Dusun Duwet Desa/Kecamatan Cepiring, Kendal. Jarak dusun tersebut dengan Kota Kendal, sekitar empat kilometer ke arah barat. Sudah barang tentu, jarak itu merupakan jarak yang cukup jauh yang bila ditempuh sekadar untuk mengisi perut. Penjual pecel lontong itu menempati sebuah warung sederhana berukuran 5 x 6 meter. Terbuat dari gedhek atau anyaman bambu, beralas tanah, dan beratap seng. Ya, itulah warung makan lontong pecel Mbak Sukesi (36). Ketika wartawan koran ini datang ke warung itu pukul 12.08, dalam warung tanpa papan nama tersebut ternyata sudah penuh sesak para pembeli. Mereka terlihat duduk berdesakan di tiga kursi kayu panjang dalam warung. Beberapa calon pembeli yang belum kebagian tempat, tampak bersabar menunggu dengan berdiri di luar. Kerumunan pembeli tersebut, ternyata terdiri atas beragam status sosial. Bila dilihat dari baju yang dipakai mereka, tampak di antaranya adalah PNS, montir, pelajar, muda-mudi, dan tukang becak. Di luar, tampak terlihat becak yang sedang diparkir. Para pembeli yang telah terlayani, terlihat dengan lahap menyantap hidangan di atas piring berisi irisan lontong, bakwan, sayur-sayuran seperti tauge, bayam, kecipir, kol, serta kembang turi yang diberi bumbu sambal pecel. Satu-dua di antara pembeli, terlihat kepedasan. Meski demikian, mereka tak segera menghentikan keasyikannya makan lontong pecel itu. Kerupuk karak di genggaman tangan, dan segarnya es campur kolang-kaling siap sebagai obat menghilangkan rasa pedas. Embusan semilir angin di bawah rindangnya pohon beringin, ternyata mampu menimbulkan selera makan. ''Lontong pecel siji, lombok nggo sambel loro wae, lan sayurane ora nganggo kol. Minumnya es campur,'' teriak seorang calon pembeli, minta segera dilayani karena perutnya sudah kosong. Rp 200.000/Hari Setelah mendapat makanan yang dipesan, pria itu pun dengan lahap menghabiskan satu setengah porsi lontong pecel. Masakan hasil racikan Mbak Sukesi, ternyata cukup nikmat. Pemilik warung itu tampak ramah dan cekatan melayani pembeli. Dia mengaku menekuni pekerjaannya menjual lontong pecel di tempat itu sejak 12 tahun silam saat ditinggal pergi suaminya. Keahliannya meracik bumbu pecel diperoleh dari ibu kandungnya, Mbok Soerih. Selain lontong pecel, di warung itu juga tersedia menu makanan tradisional lain. Misalnya tahu campur, sayur lodeh, rujak, dan macam-macam gorengan. Adapun minuman yang tersedia adalah teh, es teh, es cao, kolang-kaling, dan es kolak pisang. ''Menurut ibu saya, enak tidaknya makanan pecel terletak pada sambalnya. Khusus untuk sambal, saya memakai gula aren produksi dari Desa Limbangan,'' tutur Sukesi. Menurut dia, gula aren memiliki kekhasan. Khususnya dengan aroma. Aroma gula aren bebeda dari gula jawa yang terbuat dari tetes tebu. Kecuali Jumat Kliwon, warungnya setiap hari buka pukul 09.30 - 17.00. ''Rata-rata saya mampu menjual 100 lontong/hari. Untuk membuat lontong sebanyak itu, dibutuhkan beras sekitar 5 kg.'' Untuk berbelanja bahan baku, dia mengeluarkan uang Rp 125.000/hari. Bila dagangannya habis, dia bisa mengantongi keuntungan Rp 200.000/hari. (Setyo Sri Mardiko-91k) |