| Selasa, 20 Juli 2004 | SEMARANG |
2,5 % Penduduk Indonesia Menderita DiabetesSEMARANG- Dari tahun ke tahun jumlah diabetisi -sebutan penderita diabetes atau kencing manis- di Indonesia semakin meningkat. Bahkan, diperkirakan pada 2025 Indonesia menduduki urutan keenam dunia di bawah Cina, India dan Amerika. Tentu saja, kondisi tersebut memerlukan perhatian khusus dari pemerintah dan semua instansi terkait. Sebab, saat ini diabetisi tidak hanya terkonsentrasi di perkotaan saja, tapi juga di pedesaan. ''Angka prevalensi diabetis di Indonesia memang sangat beragam. Namun, jumlahnya cenderung meningkat. Saat ini sudah mencapai 2,5 persen dari seluruh penduduk Indonesia,'' kata Sekretaris Jendral PB Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) Dr Tjokorda Gde Dalem Pemayun SpPD dalam Simposium Diabetes Mellitus untuk Dokter dan Diabetesi di ruang Amartapura Hotel Grand Candi, baru-baru ini. Lebih lanjut, Staf Sub-Bagian Endokrinologi-Metabolik Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK Undip/RS Dr Kariadi Semarang itu mengungkapkan pada 1995 pravalensi diabetes di seluruh dunia sekitar 4 persen. Diperkirakan tahun 2025 mendatang meningkat menjadi 5,4%. Peningkatan tersebut bukan hanya terjadi di negara-negara maju saja, tapi juga di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Di Jakarta dan daerah Depok sendiri, menurut penelitian pada 2001 jumlah diabetisinya sudah mencapai 12,8 persen dari keseluruhan jumlah penduduk DKI Jakarta. Sedangkan di daerah pedesaan Tasikmalaya dan daerah urban di Jawa Timur, tahun 1980 angka prevalensinya sudah mencapai 1,1% dan 1,43 %. Bagaimana dengan di Jawa Tengah? Menurut Ketua PB Persadia Dr dr Darmono, SpPD-KEMD yang juga ketua Bagian Ilmu Penyakit Dalam Staf Sub-Bagian Endokrinologi-Metabolik Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK Undip/RSUP Dr Kariadi Semarang, diabetisi di Jawa Tengah juga cenderung meningkat. Meski belum diadakan penelitian secara menyeluruh, namun dari penelitian di bebarap daerah seperti Semarang dan Pekalongan, indikasi peningkatan itu sangat jelas. ''Di Semarang dan Pekalongan jumlah diabetisi meningkat. Paling tidak, dua kota itu bisa dijadikan ukuran meningkatnya jumlah diabetisi di Jateng,'' jelasnya. Darmono menambahkan, meningkatnya jumlah diabetisi itu disebabkan masyarakat belum cukup memahami seluk beluk penyakit ini, mulai dari gejala hingga cara menghambatnya. Padahal, untuk menghambat diabetes tersebut sangat sederhana, yaitu dengan membiasakan pola makan yang sehat dengan gizi seimbang, olah raga dan kontrol kadar gula darah secara teratur. (H13-73) |