| Selasa, 20 Juli 2004 | SEMARANG |
Bau Kolam Retensi Tawang Masih DikeluhkanSEMARANG UTARA-Beberapa warga masih mengeluhkan bau yang muncul dari kolam retensi di depan Stasiun Tawang. Warga meminta agar kolam itu bisa menjadi tempat wisata, harus disertai pembersihan rutin, sehingga bau tak muncul lagi. Marsono, warga Kelurahan Kuningan saat dijumpai di tepi kolam itu mengakui memang sudah banyak masyarakat yang menjadikan lokasi itu sebagai tempat bersantai. Pada hari Minggu, beberapa anak kadang datang ke tempat itu bersama orang tuanya untuk naik becak air. Sementara pada hari biasa, beberapa warga datang ke tempat itu sekedar untuk melihat pemandangan. Dia sependapat jika tempat itu sekalian dijadikan tempat wisata. Hanya Pemkot harus rajin membersihkan kolam agar tidak muncul bau. "Jangan sampai warga ingin berlibur sambil menutup hidung." Pendapat serupa dilontarkan Warjiman, warga sekitar. Jika menjadi tempat wisata, di sekeliling kolam itu akan muncul pedagang kaki lima penjual makanan. Mereka tentu akan mengeluh, jika kolam itu masih menimbulkan bau. Sementara itu, menurut pengamatan bau tidak sedap tercium di sisi sebelah barat kolam. Menurut warga lain, bau itu antara lain akibat banyak gangang mati yang belum dibersihkan. "Kalau bisa dibersihkan tiap hari, bau akan jauh berkurang," kata dia. Segera Dibersihkan Sementara itu, Kasubdin Pengairan Ir Prasetyo Kentjono Dipl HE mengatakan salah satu penyebab munculnya bau akibat banyak gangang yang mati. Hal itu menunjukkan kadar asam di kolam itu sudah cukup tinggi. Menurut dia, pemerintah telah melengkapi kolam itu dengan aerasi, berupa beberapa air mancur. Aerasi itu bukan semata-mata keindahan, namun fungsi utamanya memperbanyak kandungan oksigen dalam air kolam dan mengurangi kadar keasaman. Tentang adanya sampah, dia telah memerintahkan stafnya agar melakukan pembersihan, Selasa (20/7) hari ini. Sampah hayati itu akan dikeruk dan dimasukkan dalam karung, kemudian dibuang. Dia mengakui, air yang masuk ke kolam retensi di depan Stasiun Tawang sebagian merupakan limbah, termasuk dari Pasar Rejomulyo. Bulu-bulu ayam, darah, dan berbagai sampah lain dari pasar itu masuk ke saluran dan kemudian mengalir ke kolam retensi. "Namun saya mendengar, pembangunan pasar ikan higienis nantinya juga akan dilengkapi penyaring limbah, sehingga tidak langsung masuk ke saluran," kata dia. Kolam retensi itu sebenarnya hanya untuk menampung saluran dari kawasan kota lama. Dengan begitu mestinya saluran dari Rejomulyo tidak masuk ke kolam, tetapi ke Kali Banger. Namun kenyataan saat ini berbeda, saluran Rejomulyo tetap masuk ke polder. (G6-64) |